Contoh-contoh Cerpen


Migrasi Para Hantu

Cerpen Hairus Salim HS

Waktu itu kira-kira jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tiba-tiba kudengar pintu rumah diketuk sangat keras. Itu pasti ayah, pikirku. Tapi mengapa ketukannya begitu sangat keras, bahkan mirip orang menggedor-gedor. Seperti sedang ada sesuatu yang mengejarnya dan membuatnya takut.
“Dok…dok… dok… Assalamu’alaikum,” ucap ayah keras dan berulang-ulang.
“Wa’alaikum salam,” jawab ibu dan dengan tergopoh-gopoh terus berjalan ke arah pintu.
Lalu, aku lihat samar-samar ayah masuk rumah dengan tubuh gemetar dan wajah pucat.
“Tolong, ambilkan aku air putih,” pinta ayah.
Tanpa banyak bertanya ibu segera ke belakang, mengambil segelas air putih, dan menyuguhkannya kepada ayah. Ayah segera mereguknya. Dua tiga kali regukan. Lalu, suasana hening. Beberapa saat setelah itu kulihat ayah mulai agak sedikit tenang.
“Apa yang terjadi?” tanya ibu pelan.
“Tadi ada seorang perempuan dengan rambut panjang terurai dan gaun kelabu ikut menumpang sepedaku. Katanya, ia juga hendak ke Murung Pudak…,”
“Lalu…?”
“Aku kira ia perempuan nakal yang hendak menggoda. Jadi langsung saja aku ingin menolaknya. Tapi setelah kupikir-pikir, jangan-jangan sangkaku keliru. Mungkin ia betul-betul orang yang butuh bantuan. Akhirnya, kupersilahkan saja ia membonceng…”
Aku memasang lebih baik telingaku. Ingin tahu juga apa yang menimpa ayah. Kugeser pelan-pelan tubuhku dengan posisi telinga mengarah ke pintu kamar yang terbuka. Ayah dan ibu tentu mengira aku sudah tidur. Dan kalau mereka tahu aku terjaga, tentu mereka tidak mau cerita itu didengarkan anaknya. Kudengar suara ayah masih bergetar, dan sebentar-sebentar ceritanya tersendat. Rupanya ayah ditimpa takut yang berlipat-lipat.
“Tapi perasaanku tidak enak,” lanjut ayah.
“Aku mencium bau aneh. Bau harum yang bercampur baur dengan bau busuk. Bulu kudukku berdiri tegak. Dan tak lama kemudian sepeda terasa jadi berat sekali. Hampir tak kuasa aku mengayuhnya. Aku segera berhenti dan turun dari sepeda. Tapi betapa terkejutnya aku ketika menoleh ke belakang, perempuan yang tadi ikut menumpang sudah tak ada lagi.
“Lalu?”
“Aku segera naik sepeda lagi dan mengayuhnya dengan cepat. Sekarang kayuhan kurasa ringan sekali. Tapi aneh. Meski sudah berpuluh hingga beratus kali kukayuh, aku merasa masih berada di tempat. Tak beranjak dari tempatku semula berhenti. Bagian belakang sepedaku kurasa lebih tinggi. Seperti menungging. Aku kembali menoleh ke belakang, kulihat roda belakang terus berputar, tapi karena seperti ada yang mengangkat bagian belakang sepedaku, roda itu hanya berputar dan tak membuat sepedaku berjalan.”
Cerita ayah berhenti sejenak. Ia kemudian mereguk air putih lagi setegukan. Dan terasa ia sudah mulai lebih tenang.
“Aku kembali turun dari sepeda. Kubaca ayat Qursy yang pernah diajarkan tuan guru. Lalu kubilang: ‘tolong jangan ganggu aku!’”
“Setelah itu,” lanjut ayah, “aku naik lagi sepeda. Kukayuh. Kali ini sepeda sudah berjalan dengan sempurna. Tapi kurasa perempuan itu terus mengutitku. Aku kayuh sepeda sekuat-kuatnya agar segera sampai rumah. Sekarang aku baru merasa lelah dan lemas sekali.” Demikian ayah menutup ceritanya.
“O, begitu,” respon ibu tenang.
“Di jalan mana persisnya perempuan itu hendak ikut menumpang?” tanya ibu.
“Di jembatan gantung Gambah, tepatnya di ujung jalan naik jembatan itu,” jawab ayah.
“Ya, ya… di situ. Aku juga sering mendengar cerita orang yang diganggu hantu perempuan di daerah situ,” sambung ibu seperti mengiyakan cerita ayah.
Kini giliranku yang mencuri-curi dengar yang tercekam. Aku jadi ikut ketakutan. Dalam perasaanku perempuan yang disebut ibu “hantu” itu masih ada di depan rumah. Mungkin ia ikut mendengarkan pengaduan ayah itu. O, mungkin nggak lama lagi ia akan masuk rumah. Nyaliku jadi menciut. Kudekap erat guling. Sementara bantal kututupkan ke telinga. Aku tak ingin mendengar lagi sesuatu. Tapi hingga pagi aku belum juga bisa tertidur. Mataku terpejam tapi pikiranku terus terbuka. Bayangan perempuan itu serasa terus memburuku. Sungguh menyesal aku mendengar cerita itu.
Besoknya, kulihat ibu dan beberapa tetangga sibuk membuat makanan. Rupanya, ibu hendak membuat selamatan. Ibu sendiri secara khusus membuat bubur merah, ketan merah, dan merebus sepuluh biji telur bebek yang kemudian juga dipolesi kesumba warna merah. Dan setelah matang, bubur, ketan dan telur merah itu dibawa seseorang yang disuruh ibu, entah ke mana, aku tidak tahu.
Rupanya ibu membuat semacam selamatan dan sesaji kecil. Maksudnya mungkin agar ayah tak diganggu lagi dalam perjalanannya. Bagaimana pun karena pekerjaannya ayah harus melewati jembatan dan jalan yang rumpil itu setidaknya tiga kali dalam seminggu. Dan pulangnya pasti malam hari. Itu sebenarnya jalan pintas yang menghubungkan kota kecamatanku dengan kota kabupaten. Jalannya memang masih belum ada penerangan listrik dan di sepanjang kiri kanannya penuh hutan belantara. Hanya ada satu dua rumah berdiri di sepanjang jalan itu. Kalau harus memilih jalan yang resmi mesti agak memutar. Tentu terlalu jauh dan melelahkan buat ayah.
Setelah menghaturkan sesaji itu, tampaknya ayah tak pernah lagi diganggu hantu itu. Atau mungkin ayah tak mau menceritakannya, karena ayah sudah terbiasa dengan itu. Atau aku yang tak tahu. Entahlah. Nyatanya setelah peristiwa itu ayah terus melewati jalan itu. Tetap tiga kali seminggu dan malam hari lagi.
***
Cerita pertemuan ayah dan hantu perempuan beberapa tahun silam itu sekarang kuceritakan kembali kepada tiga anakku. Tentu kata “ayah” di sana kuganti dengan kata “kakek”. Dan sudah barang tentu juga kutambah dan kubumbui sana sini, agar ceritanya kelihatan dramatis dan menyeramkan. Sosok hantunya kuceritakan dengan detil seakan mata kepalaku sendiri yang menyaksikan.
Tak ada niat sebenarnya menceritakan kembali kisah ini. Awalnya karena aku melarang keras mereka menonton film hantu yang akhir-akhir ini membanjir di televisi. Alasanku, karena acara itu tak mendidik. Tapi anak-anakku juga punya argumentasi sendiri.
“Justru acara-acara seperti itu mengajarkan kami untuk tidak jadi penakut,” kata anak tertua.
“Kalau kita nggak ikut nonton, kita jadi nggak bisa ikut ngobrolin di kantin dengan teman-teman dong,” kata anak yang tengah. “Kita jadi kelihatan kuper,” lanjutnya.
“Lho, memangnya pengetahuan mengenai hantu-hantu itu jadi ukuran bagi remaja sekarang, ya?” tanyaku mengejek.
“Yach,…mau nggak mau,” jawab mereka.
“Ha…ha…ha itu kekeliruan fatal. Pokoknya nggak ada alasan yang membolehkan kalian menonton acara hantu di televisi,” tangkisku.
Kulihat wajah mereka bersengut kecewa. Tapi aku tidak perduli. Sebagai orang tua aku harus tegas, pikirku. Tapi celaka, setelah itu ketiga anakku tak mau menyapa aku lagi. Tak ada yang mau bermanja-manja kepadaku seperti biasa. Tak ada juga yang meminta uang jajan. Seolah-olah mereka tidak butuh aku. Wah gawat, pikirku. Larangan menonton acara hantu di televisi betul-betul menjadi suatu yang serius bagi mereka. Itulah sebab mereka berkonspirasi tak menyapaku dan menganggapku sepi.
Setelah berhari-hari, aku akhirnya memutuskan berkompromi saja. Bukan kubolehkan mereka menonton acara hantu di televisi, tapi kutawarkan dengan menceritakannya saja. Tentu saja awalnya mereka menolak. Tapi kuyakinkan bahwa justru melalui cerita seperti ini pengetahuan mereka akan hantu lebih unik dan otentik. Karena pasti tak ada teman-teman mereka yang tahu. Setelah mendengar alasanku itu, dengan agak ragu dan terpaksa barulah mereka mau menerimanya.
Demikianlah, riwayat mengapa cerita pertemuan ayah, e kakek maksudku, dulu dengan hantu itu keceritakan kepada mereka.
Ternyata setelah mendengar ceritaku itu mereka sangat senang sekali. Tapi serentak dengan itu mereka juga menjadi takut. Tak ada yang berani tidur di kamarnya sendiri setelah mendengar cerita itu. Semua pindah ke kamar kami, orang tuanya. Kamar jadi sumpek sekali.
“Lho, mengapa jadi takut,” tanyaku.
Mereka tak menjawab. Tapi dengan segera mendekap guling dan bantal serta menutupkan selimut ke seluruh tubuh.
“Hantu itu kan jauh di sana di kampung halaman ayah. Mana mungkin mereka ke sini menyeberang laut,” jelasku.
Tapi mereka tak peduli. Tetap dilanda ketakutan. Dan malam itu akhirnya mereka tidur di kamar kami bersesak-sesakan.
Tapi itu rupanya bukan cerita hantu satu-satunya yang harus aku ceritakan pada mereka. Aneh sungguh, malam-malam berikutnya, jika aku agak luang, mereka meminta lagi cerita hantu yang lain. Aku terpaksa menceritakan lagi cerita-cerita hantu yang pernah kudengar semasa kecilku dulu. Salah satunya yang menimpa pamanku yang tinggal di sebelah kabupaten kami ini:
Setiap Jumat malam paman membawa kelapa ke kota kabupaten. Bersama rombongan teman-temannya, paman biasa berangkat pukul tiga dini hari. Seusai transit dan menunaikan shalat di Masjid Agung kota biasanya mereka langsung menjual kelapa-kelapa itu ke para tengkulak yang sudah menunggu.
Suatu kali, menurut cerita paman, ia berada di urutan paling belakang rombongan. Beberapa kali ia melihat ada kelapa di jalan. Pikirnya, itu kelapa temannya yang mungkin terjatuh. Ia memungutnya dan memasukkan ke keranjangnya. Anehnya, kelapa yang jatuh itu berceceran tidak hanya satu tapi mencapai belasan. Tapi selalu saja paman mengambil dan memasukkannya ke keranjangnya. Pikir paman, pasti ada keranjang kelapa temannya yang bolong. Beberapa kali harus turun memungut kelapa ini membuat ia makin jauh tertinggal di belakang rombongan.
Sesampai di kota paman memberitahu teman-temannya yang merasa kelapanya terjatuh untuk mengambil ke tempatnya. Tapi tak seorang pun yang mengambil. Mereka semua merasa kelapa mereka tidak ada yang jatuh. Semua merasa jumlah kelapa mereka masih tetap utuh tak berkurang satu pun. Paman jadi heran, lalu kelapa-kelapa siapa tadi yang ia pungut, dalam hatinya bertanya. Anehnya lagi setelah paman menengok keranjangnya, jumlah kelapanya juga tetap seperti semula. Tak ada penambahan.
Seluruh teman-temannya ketawa cekikikan menyaksikan kebingungan paman. Paman menjadi bertambah bingung.
“Apa sesungguhnya yang terjadi?” tanyanya.
Setelah agak lama ketawa-ketawa kecil, akhirnya teman-teman paman itu pun menceritakan silih berganti apa yang sebenarnya terjadi. Menurut mereka, mereka semua pernah mengalami kejadian seperti yang dialami paman. Kelapa-kelapa itu, lanjut mereka, pada dasarnya adalah kepala-kepala mereka yang pernah dipancung zaman Jepang. Arwah mereka lalu gentayangan. Dan konon memang daerah yang mereka lalui itu dulu tempat tentara Jepang memancung para pemberontak.
Paman bergidik mendengar cerita itu. Badannya langsung panas dingin. Sejak itu, cerita paman, ia tak pernah sudi lagi berlambat-lambat dan berada di belakang rombongan.
Seperti cerita-cerita hantu yang lain, anak-anakku senang mendengar cerita ini. Tapi seperti biasanya pula setelah mendengar cerita itu mereka menjadi takut. Tak berani tidur di kamar maisng-masing. Lalu tidur di kamar kami. Anehnya malam-malam berikut, ketika saya sedang tidak sibuk, mereka meminta lagi cerita hantu yang lain. Dan tidak bisa tidak aku pun akan menceritakan cerita hantu yang baru. Tentu akan terlalu panjang kalau kuceritakan satu persatu cerita-cerita hantu itu di sini.
***
Nah, yang menarik cerita soal hantu itu tidak hanya berhenti sampai di situ. Pada liburan sekolah yang akan datang, anak-anakku mengajukan permohonan untuk berlibur ke tempat kakek, kampung halamanku. Tentu saja aku jadi senang, karena biasanya justru sangat sulit mengajak mereka pulang ke kampung. Selain perjalanan panjang yang melelahkan, mereka cepat merasa bosan karena, kampung ayah itu, kata mereka, terlalu sepi. Sulit cari makanan enak dan hiburan. Biasanya baru sehari di sana mereka sudah minta pulang. Karena itulah, kadang bahkan mereka memilih tidak ikut sama sekali, jika aku dan istriku pulang menengok ibu.
Tapi kali ini sungguh aneh. Mereka bahkan berencana akan tinggal seminggu penuh di sana. Yang mengagetkanku mereka akan pergi bersama lima teman sekolah, dengan membawa seperangkat kamera dan mobil sendiri, meski itu harus naik kapal laut. Serius sekali, mau apa sebenarnya mereka?
Setelah kutelusuri, barulah bertemu jawabnya. Ternyata, di kampungku itu mereka berencana menelusuri jalan-jalan yang ada hantunya seperti dalam cerita-ceritaku. Mereka akan merekam suasana sekitar jalan itu ke dalam kamera, dan tentu juga, sekalian dengan hantu-hantunya. Ini, kata mereka, akan menjadi petualangan paling menantang buat mereka dan hasilnya akan menjadi hadiah hiburan paling menarik buat teman-teman sekolah. “Penampakan dahsyat,” kata mereka.
Aku sungguh terperangah mendengar penjelasan itu. Teringatlah aku pada jalan-jalan yang pernah kuceritakan itu empat puluhan tahun lampau, kini penuh rumah dan pertokoan, listrik menyala di sepanjang jalan, dan pepohonan dan belukar di kiri kanannya tentulah sudah menghilang.
Mereka pasti kecewa kalau bersikeras tetap berangkat, pikirku. Lebih kecewa dari kedatangan mereka sebelum-sebelumnya ke kampung halaman orang tuanya. Mencari hantu? Bukankah hantu-hantu itu sudah bermigrasi ke kota-kota…? Masalahnya sekarang bagaimana harus kujelaskan hal ini pada mereka?


Rumah di Samping Kuburan

Cerpen: Hairus Salim HS
Keputusan Heri untuk membangun rumah yang bersebelahan dengan kompleks sebuah pekuburan hingga sekarang tetap dianggap keluarganya sebagai sebuah tindakan yang gila.
“Apa-apaan kamu. Apa tidak ada lagi tanah di Jakarta sini hingga membeli tanah yang bertetangga dengan kuburan,” demikian komentar ayahnya ketika dulu pertama kali ia mengutarakan rencana tempat tinggalnya itu.
“Apa uangmu tidak cukup untuk membeli tanah di tempat yang lebih baik. Ngirit kok ngawur,” tambah adiknya. Memang harga tanah yang dibelinya itu jauh, sangat jauh lebih murah dibanding tanah-tanah di tempat lain. Maklumlah tanah di samping kuburan.
Tentu saja rencananya itu bikin sewot keluarga besarnya. Menurut mereka, tanah di samping kuburan tak layak huni. Bukan hanya angker dan menyeramkan, tapi juga bisa bikin sial. Kalau pun di Jakarta sini ada yang tinggal di samping kuburan, itu karena memang mereka sudah tidak punya kesempatan lagi tinggal di tempat lain. Uang mereka memang hanya pas-pasan untuk mendapatkan tanah di samping kuburan.
“Seandainya ada uang mereka pasti juga akan mencari tempat lain,” sergah adik laki-lakinya.
Marah sanaknya tumpah ruah. Tentu saja. Alasan apapun tidak bisa mereka terima. Martokusomo, orang tua Heri, bukanlah sembarang orang. Ia salah seorang dari sepuluh orang terkaya negeri ini. Perusahaannya berjejeran dari Sabang sampai Merauke. Rumahnya selalu ada di daerah-daerah yang terkenal dengan tempat peristirahatannya yang indah dan nyaman seperti Bali, Yogya, Bandung, Malang, Samosir, Toraja, Bukittinggi, dan bahkan beberapa di luar negeri. Garasinya tak cukup menampung himpunan mobil-mobil mewah dan antik koleksinya. Seandainya saja tempat di samping istana negara itu dijual, ia tentu juga sanggup membelinya. Heri, putera kedua Martokusomo itu, tentulah terikut menjadi kaya. Sekarang ini saja ia sudah diserahi memimpin tiga perusahaan, dan bakal perusahaan dan harta benda yang akan diwarisinya tentu akan lebih berlimpah lagi sepeninggal ayahnya itu. Tentu tak ada alasan tidak punya duit buat keluarga ini. Pun juga buat Heri.
“Saya khawatir, kalau kamu tetap ngotot mau tinggal di sana, nanti nggak ada famili yang sudi berkunjung lho,” ucap ibunya halus namun penuh dengan nada mengancam.
Kakak perempuannya lebih simpatik dan mengiranya hendak membangun kompleks pemakaman keluarga. “Untuk apa dik, bukankah ayah di Bogor sudah membeli tanah khusus untuk pemakaman keluarga. Di sana juga telah berkubur kakek-nenek kita,” kata kakak perempuannya itu.
Bukan sekali itu saja Heri berselisih pendapat dengan keluarganya. Berulang-ulang ia mengritik gaya hidup, foya-foya dan pemborosan di tengah keluarganya itu. Dan hal ini selalu membuahkan pertengkaran, terutama dengan ayah dan adiknya.
Tapi dalam hal tempat tinggal itu, Heri tetap bergeming. Ia jalan terus dengan rencananya. Membeli tanah itu, membangun rumah di atasnya, dan kemudian tinggal di sana. Berbeda dengan pikiran banyak orang yang merasa terpaksa harus tinggal di samping kuburan, Heri sebaliknya merasa bersyukur dan beruntung mendapat tempat di samping kuburan itu. Kini sudah lima tahun ia menempati rumah itu dengan tenang dan tenteram tanpa gangguan apapun.
Lahan yang ditempati rumah itu sebenarnya tidak seberapa besar. Tentu ini untuk ukuran seorang milyuner seperti Heri atau dibanding umumnya rumah-rumah orang gedongan di Jakarta. Tapi arsitektur rumahnya sangat unik. Seperti kubus yang disusun berundak-undak hingga tujuh undakan. Catnya berwarna coklat dengan lis hijau tua. Pohon kamboja, cemara, dan palma menghiasi sekeliling rumah. Sementara beberapa tanaman di dalam pot mewarnai tamannya. Perdu dan teratai tumbuh di kolam yang tak seberapa besar di halaman rumah itu.
Di bagian depan sebelah timur yang berjejeran persis dengan kompleks kuburan, tepatnya di lantai dua, Heri membangun ruang kerjanya. Bagian yang menghadap ke jalan dan ke arah kompleks pemakaman itu berdinding kaca tebal yang tembus pandang dari dalam tetapi tampak gelap dari luar.
Demikianlah, sehari-hari jika tidak sedang tugas rutin mengunjungi pabrik-pabriknya atau bepergian ke luar kota, atau sedang jenuh bekerja, Heri menghabiskan waktunya di ruang itu. Tempat itu persisnya juga merupakan kantornya. Sementara beberapa stafnya berkantor di ruang bagian lain lantai itu.
Yang menarik tentu saja adalah tingkah lakunya sehari-hari. Seringkali ia menghabiskan waktunya dengan duduk berlama-lama menghadap ke dinding sebelah timur, persis ke kompleks pemakaman itu. Ia memandang kompleks pemakaman itu dengan mata yang lurus dan suasana yang khidmat. Seperti seorang yang sedang menatap dan meratapi tugu peringatan. Kadang ia enggan diganggu ketika sedang memandang pemakaman itu. Entah, apa yang ada dalam pikirannya. Tampaknya memandang pemakaman itu seperti laku permenungan baginya.
Jika ada rombongan jenazah yang hendak dikuburkan di situ lewat, ia biasa berdiri seolah memberi hormat hingga rombongan itu berlalu memasuki kompleks pemakaman. Peristiwa itu selalu menghentaknya dan mendorongnya untuk jeda sejenak dari bekerja. Lalu mata dan pikirannya mengikuti jalan rombongan pembawa mayat itu. Bahkan tak jarang ia berdiri hingga upacara penguburan jenazah itu usai. Ia menyaksikan semua prosesi itu seperti menyerap peringatan.
Tingkah lakunya ini telah menjadi pengetahuan umum staf-staf dan para pembantu rumahnya. Tapi tak ada yang berani menanyakan dan mengusiknya. Dan mungkin mereka juga tak merasa perlu menanyakannya. Lagi pula apa perlunya mereka tahu mengapa Heri senang berakrab dengan pemakaman? Mengapa ia senang berdekat dengan kematian?
Hingga pada suatu hari menjelang senja. Para karyawan sudah pulang. Tak ada lagi keramaian kantor. Sepi. Dari bilik kamar kerja Heri terdengar isak orang tersedu. Bunyi tangis yang demikian ditahankan dan sebentar-bentar berhenti. “Hik…hik…hik.”
“Itu Heri. Mengapa ia menangis?” bisik bibi Sumi. “Aneh, padahal tadi menjelang jam kantor tutup ia sempat bercengkerama dengan para karyawan,” pikirnya. Bibi Sumi mencoba tak peduli dan menganggap itu bagian dari perilaku aneh majikannya, meski yang ini baru ia alami. Tapi isak Heri yang tinggi dan tak henti-henti itu membimbangkannya. “Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi pada Heri?” tanyanya dalam hati. “Mungkin ada keluarganya yang meninggal yang membuatnya sedih. Atau ada masalah dengan calon istrinya?” Tapi, setahunya, Heri belum punya calon istri.
Bibi Sumi mencoba hendak mengetuk kamar itu tapi kembali ia dicegat ragu. “Jangan-jangan nanti saya mengganggu,” pikirnya lagi. Sempat tertegun sejenak tiba-tiba seperti ada yang mendorong dan menggerakkan tangannya. Tanpa terlebih dulu mengetuk ia bahkan langsung membuka pintu itu. Ia melihat Heri terselungkup di atas kursi yang biasa digunakannya untuk duduk memandangi pemakaman.
Dengan tergesa ia menghampiri majikannya itu. “Ada apa nak Heri? Apa yang terjadi?”
“Lihat sana bi,… lihat,” jawab Heri sambil tangannya menunjuk ke arah pekuburan.
Bibi Sumi mengalihkan pandangannya ke arah kuburan. Tapi tak ada hal aneh yang dilihatnya. Pekuburan itu tampil biasa seperti dilihatnya sehari-hari. Deretan kuburan dengan kijing dan nisannya, serta beberapa pohon kamboja.
“Ada apa nak Heri, bibi tak melihat apa-apa.”
“Lihat di sana bi, di tengah-tengah pekuburan itu!”
Bibi Sumi mencoba mempertajam pandangannya. Lurus ke tengah. Lalu menebar lagi pandangannya ke seluruh area pekuburan. Kemudian kembali lagi ke tengah. Bolak-balik ia alihkan arah matanya. Tapi tetap ia tak melihat apa-apa.
“Iya kan bi,…Bibi tahukan siapa dua orang yang tertelungkup dengan tubuh berdarah di tengah kubur itu?”, kata Heri dengan suara yang tertahan-tahan oleh isak tangis.
Bibi Sumi sama sekali tak melihat apa-apa. Tapi kali ini ia memilih diam dan tak berkata-kata apa-apa. Ia lalu memeluk Heri bagai seorang ibu memeluk anaknya. Ia pikir pasti ada sesuatu yang dilihat Heri yang tak bisa ia lihat. Dan pasti hal itulah yang membuatnya menangis.
Heri seperti mendapat perlindungan dalam pelukan Bibi Sumi, inang yang mengasuhnya sejak bayi. Beberapa saat kemudian isak tangisnya mereda dan pikirannya mulai tenang.
“Aku melihat ayah dan adikku dikejar puluhan serigala di tengah padang yang luas dan gelap, bi. Mereka berteriak-teriak minta tolong, tapi tak seorang pun ada di sana. Ayah dan adikku berlari ke arah pekuburan itu. Di tengah-tengah pekuburan itu mereka rubuh. Perut mereka terluka dan berdarah tertusuk nisan,” demikian cerita Heri dengan suara yang masih agak tersendat, diselingi sisa-sisa sesungukan.
Bibi Sumi terperangah mendengar cerita itu. Sungguh luar biasa dan sama sekali di luar akal sehatnya.
Ia hanya bisa berkata, “sudah… sudahlah, tenangkan pikiran, itu mungkin hanya bayangan burukmu!”
Seperti lepas beban yang memenuhi dada dan pikiran Heri seusai menceritakan apa yang dilihatnya itu. Ia kemudian melepaskan kepalanya dari pelukan Bibi Sumi dan menyandarkan tubuhnya di kursi dengan mata terpejam. Suasana hening. Bibi Sumi perlahan beranjak dan meninggalkan Heri untuk sepi sendiri menenangkan diri.
Esok sorenya, koran-koran dan televisi memberitakan penangkapan Martokusumo dan anaknya. Si bapak dituduh melakukan korupsi dan si anak disangka melakukan penyelundupan. Para karyawan agak heran melihat Heri tampak tenang dan tak kelihatan panik, meski yang ditangkap dan dipermalukan itu bapak dan adiknya. Hanya Bibi Sumi yang tahu bahwa yang disaksikan Heri tentang ayah dan saudaranya jauh lebih dahsyat dari sekadar sandiwara penangkapan itu.







H a j i

Cerpen Hairus Salim HS
Dengan kayuhan satu kali dua, jukung yang kutumpangi perlahan melaju, menelusuri perkampungan di sisi sungai itu. Mentari waktu itu jatuh persis di atas ubun-ubun kepala. Rasa panas menjadi silir oleh hembusan angin yang menerpa.
Beberapa klotok menyelip jukung yang kutumpangi. Ombak yang dihasilkan klotok yang sebenarnya tak begitu besar itu sempat juga membuat jukung ini terombang-ambing. Ditilik dari berbagai macam barang yang mereka bawa, para penumpang klotok-klotok itu tampaknya baru pulang dari pasar kota. Ya, aku baru ingat, ini Rabu, hari pasar besar di kota Martapura. Pantas banyak sekali klotok hilir-mudik, pikirku.
Sungai ini memang satu-satuya jalan penghubung antara kota Martapura dan Dalam Pagar, kampung yang kutuju. Selain memakai klotok, orang masih banyak yang menggunakan jukung yang hanya mengandalkan kayuhan tangan saja. Aku sengaja memilih jukung biar agak lama dan lambat, sehingga aku bisa melihat-lihat keadaan sepanjang jalan sungai yang hampir tujuh tahun ini tidak pernah kulewati.
Dalam Pagar, memang nama kampung yang sering mengundang tanya. Orang yang belum tahu tentu menyangkanya sebuah perkampungan penduduk yang dikelilingi pagar secara eksklusif. Padahal tidaklah demikian. Kampung Dalam Pagar tidaklah berbeda dengan umumnya kampung-kampung pinggiran sungai di daerah Banjar lainnya.


Menurut cerita tuan guruku, asal-muasal kampung Dalam Pagar adalah sebuah tanah kosong yang dihadiahkan Sultan Tamjidillah kepada Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary setibanya ia dari belajar di Makkah. Di tanah penuh rawa yang jaraknya lebih dari duapuluh kilo meter dari kota Martapura itu, Syekh Arsyad mendirikan sebuah madrasah. Karena kealiman Syekh Arsyad, orang-orang dari empat penjuru Kalimantan, bahkan dari tanah Melayu seberang berdatangan untuk belajar dan mukim di situ. Untuk menopang kehidupan, mereka mengolah tanah itu untuk pertanian dan perkebunan, serta mencari ikan di sepanjang pinggir sungai itu. Dan untuk menjaga keamanan didirikan pagar di sekelilingnya. Belakangan pemukiman para penuntut ilmu itu berkembang menjadi perkampungan yang terkenal dengan nama kampung Dalam Pagar. Tetapi pagarnya sendiri entah kemana, tak terceritakan oleh tuan guruku. Aku sendiri kala itu tak terpikir untuk menanyainya. Sekarang, kalau ada kesempatan tentu akan kutanya kemana perginya pagar-pagar itu.
Kampung Dalam Pagar adalah perkampungan santri. Banyak tuan guru yang kini tersebar di Kalimantan ini, konon sebelumnya mengaji di Dalam Pagar. Ketika kutinggalkan, kampung ini masih merupakan daerah dengan penduduk terhitung paling teguh memegang ajaran agama dibanding kampung-kampung lain yang sebelumnya juga terkenal sebagai perkampungan santri di daerah ini. Meski demikian, kampung ini sangat tertinggal dalam hal pembangunan. Listrik saja, menurut kakakku dalam suratnya, baru satu tahun ini masuk.
Jukungku dengan perlahan dan tenang terus meluncur. Seperti peduli juga pada apa yang sedang kuhayati. Pandangku tak lepas pada suasana pinggir sungai. Terutama pada orang yang sedang berada di atas batang, entah yang sedang mandi, mencuci atau duduk-duduk santai di tebing. Satu dua di antara mereka masih ada yang kukenal baik, meski mereka tampak pangling padaku.
Keadaan penduduk ini nampaknya masih seperti dulu. Tak ada banyak perubahan. Perempuannya senantiasa memakai kerudung dan sarung motif bunga-bunga, sedang laki-lakinya memakai sarung kotak-kotak atau dalam suasana santai kadang hanya memakai celana katuk saja. Letak kampung ini yang agak terpencil dan sulit dicapai membuatnya lebih kebal dari desakan perubahan yang datang dari luar. Bahkan ia seperti tidak peduli dengan arus deras perubahan zaman itu. Tujuh tahun yang lalu, seingatku, hanya ada lima hingga sepuluh orang putera kampung ini yang bersekolah umum di kota. Sebagian besar mereka memilih mengaji di kampung ini, untuk selanjutnya nanti mengganti dan meneruskan karir orang tua mereka, sebagai petani atau pengusaha kecil.
Tidak berapa lama lagi rasanya aku akan tiba pada tempat yang kutuju. Yang baru kulihat tadi kalau tidak salah adalah rumah Haji Gurdan. Putera ketiganya temanku mengaji di madrasah dulu. Di pelataran depan rumahnya tampak gunungan jeruk yang siap diangkut ke kota. Rupanya haji ini masih berbisnis jeruk, pikirku.
Sela tiga rumah dari rumah Haji Gurdan adalah rumah Haji Syarifuddin, seorang pengusaha batu permata. Aku selalu ingat haji ini karena ialah yang selalu memarahi aku dan teman-temanku bila kami membuat ribut waktu shalat di langgar dulu. Haji ini juga terkenal dengan julukan haji singapur, karena konon ia tidak pernah naik haji. Ia hanya mampir di Singapura dan berdagang di sana. Ketika orang turun haji ia ikut bersama-sama dengan juga membawa oleh-oleh seperti halnya orang-orang yang pulang dari tanah suci. Yang namanya bau busuk tak bisa terus disimpan. Tak begitu lama, belang haji ini akhirnya bocor juga. Terkenallah hajinya dengan julukan haji singapur. Tentu kalau di depan dia julukan itu diungkapkan dalam bentuk bisik-bisik.
“Di mana berhentinya, dik?” tanya pejukung mengagetkan lamunanku.
“Itu di depan, di batang Pak Subhan,” jawabku.
Tak lama kemudian jukung merapat di batang Pak Subhan. Sehabis membayar aku langsung meloncat. Ketergesaan yang dipicu oleh rinduku pada rumah membuatku alpa mengucapkan terima kasih. Aku langsung menuju rumahku, melewati perkebunan jeruk dan beberapa halaman rumah orang. Rumahku memang terletak agak ke dalam. Tidak di pinggiran sungai, sehingga juga tidak memiliki batang.
Benar juga, memang tidak ada perubahan yang mendasar dari kampung ini. Keadaan rumah dan keluargaku masih tetap seperti dulu. Adikku, kakakku, dan juga orang tuaku bercerita panjang lebar tentang kampung ini. Para sepuh yang telah meninggal, kawan-kawan sebayaku yang telah berkeluarga, orang-orang yang telah berhaji, tentang pertemuan PKK yang menyertai pertemuan yasinan ibu-ibu, program-program pemerintah yang kini sudah mulai banyak masuk. Konon, cerita mereka, KB masih banyak ditolak karena dianggap haram. Hanya segelintir orang yang mau menerimanya. Aku menyimak cerita-cerita mereka dengan seksama. Kadang kupotong dengan tanya, bahkan mendebat.
“Sekarang kalau dari Martapura ke tempat kita bisa jalan darat melewati kampung Sungai Tuan dan Kelampayan,” kata abahku.
Aku tidak terkejut dengan cerita ini, karena dari dulu aku sudah tahu kalau ada jalan darat tembus ke kampungku ini.
“Tapi, apa tidak terlalu jauh karena harus memutar, bah?” tanyaku.
“Ya, jelas terlalu jauh. Itulah sebabnya orang masih senang lewat sungai,” jelas abahku. “Apalagi jalan itu belum selesai pengerasannya. Kalau hujan pasti berlumpur,” lanjutnya.
“Lalu, kapan kira-kira selesai?”
“Entahlah, sepertinya memang belum ingin dirampungkan. Bahan-bahan untuk membangun jembatannya saja, kata orang-orang, belum ada,” sahut abahku. Kali ini dengan nada yang agak sinis.
Aku tak menanggapi lagi dan terus saja menyimak cerita-cerita lain yang memang banyak belum kuketahui. Tapi menurutku, semuanya hal yang biasa dalam alur kehidupan ini.
Hari-hari di kampung ini berlalu rutin seperti biasa dulu. Shalat berjamaah diselenggarakan setiap waktu. Jika tiba waktu shalat, gema azan sahut menyahut, memantulkan suaranya ke atas permukaan sungai dari banyak langgar di kampung ini. Pagi hari, para orang tua pergi ke kebun, ke sawah, ke pasar atau ada juga yang ke sungai mencari ikan. Sedang anak dan remajanya pergi mengaji sorogan ke rumah tuan guru atau ke madrasah. Bila malam tiba, orang-orang pergi ke langgar, shalat berjamah, dan langsung menyimak pengajian kitab.
Aku ikut membantu orang tuaku membersihkan dan menjaga kebun jeruk bila malam tiba, bergantian dengan abahku. Karena sekarang, menurut orang-orang, banyak pencuri yang menjarah buah jeruk yang siap ranum. Bila mana sempat aku berkunjung ke teman-teman masa kecilku atau ke famili dekatku. Tentu saja aku juga ikut shalat berjamaah ke langgar. Tidak seperti di kota, di kampung ini aku harus pakai sarung dan peci. Jika tidak, aku bakal jadi perhatian orang, dituduh sudah jadi pengikut kaum muda. Atau bahkan mungkin disuruh pulang untuk memakai kopiah dan mengenakan sarung.
Pada malam kedua aku shalat berjamaah aku berdiri di belakang seorang yang tak terlalu tua dengan serban lebar memenuhi kepala dan sebagian tubuh atasnya kecuali bagian wajah. Tak kukenali benar siapa orang yang berdiri begitu berwibawa di depanku ini. Apakah haji baru di kampung ini?, tanyaku dalam hati. Biasanya orang yang berserban dan berpeci putih adalah orang yang telah menunaikan ibadah haji atau seorang tuan guru. Padahal setahuku, tuan garu hanyalah Haji Kurdi di langgar ini dan hajinya hanya ada tiga orang. Dua predikat ini memang berpengaruh dan penting di kampung ini. Berhaji adalah cita-cita tinggi setiap orang. Orang rela melepas tanah atau perahu motor mereka agar bisa pergi haji.
Seusai shalat dan sepanjang membaca wiridan, aku terdorong untuk mengenali lelaki berserban itu. Secara sembunyi dan mencuri-curi aku coba amati wajahnya. Ya, aku ingat. Kalau tidak keliru itu Pak Munif. Setahuku ia orang yang tak terlalu berada di kampung ini. Pekerjaannya adalah sopir perahu Pak Subhan. Lalu, bagaimana ia bisa kaya dan mampu naik haji, bantinku bertanya. Pak Subhan, majikannya sendiri belum berhaji. Dan tadi sore ketika aku jalan-jalan, kulihat rumahnya juga masih biasa-biasa saja. Bahkan tidak lebih baik dari rumah kebanyakan di kampung ini.
Ketika wiridan usai dan orang beranjak dari langgar, kembali kuperhatikan lelaki berserban itu. Benar, ia memang Pak Munif. Ia tersenyum melihatku dan kubalas juga dengan senyum.
“Kapan datang? Lama sekali tidak pulang, ya?” katanya sembari mengajukan tangannya untuk bersalaman.
“Kemarin,” jawabku. Rupanya Pak Munif masih mengenali aku dengan baik. Semerbak bau minyak kesturi dari pakaiannya tercium menusuk hidungku.
“Bertandanglah ke rumah!” pintanya sambil melepaskan salamannya dan berlalu meninggalkanku.
“Ya, nanti kalau ada waktu,” sahutku. Dulu semasa kecil rumah Pak Munif memang kuakrabi. Kami, anak-anak sering bermain di rumahnya karena Pak Munif sangat pandai membuat berbagai jenis mainan anak yang terbuat dari kayu. Dan ia juga dermawan memberikan jasanya itu. Kami hanya membawa bahan secukupnya sedang peralatan sudah lengkap ia miliki.
Di jalan pulang, soal hajinya Pak Munif terus mekar di kepala. Entah mengapa, hajinya itu terus jadi pikiranku. Mengejutkan sungguh, tapi mungkin bukan sekadar itu. Dalam hatiku ada semacam kecemburuan, bagaimana orang sepapa Pak Munif bisa berhaji, sedang orang tuaku yang relatif lebih berada masih belum mampu naik haji. Itulah sebabnya cita-citaku sejak lama adalah menghajikan orang tuaku. Orang tua di sini memang demikian. Tak pernah mereka berharap kalau nanti anaknya kaya membelikan mereka rumah, tanah atau perahu motor. Hanya satu harapan mereka, cukup dengan berhaji. Dan itu adalah lambang sejati dari bakti pada orang tua.
Tapi hingga sekarang, ketika kini aku kembali berdiri di hadapan kedua orang tuaku itu, harapan itu masih menggantung tinggi di awang-awang. Dan tampaknya dalam setahun dua ke depan harapan ini tetap sulit kuwujudkan. Usaha dagangku dari dulu tak meningkat-ningkat. Kalah oleh para pemodal besar. Sengaja aku tak pulang bertahun-tahun. Harapanku sekali pulang aku bisa langsung bikin kejutan, memberangkatkan haji kedua orang tuaku. Dan orang-orang kampung pasti akan berdecak: “Sungguh anak yang berbakti!” Tapi kenyataannya harapan ini sampai kini hanya tinggal harapan Dan pujian yang kuharapkan itu mengepul hilang bagai asap.
Aku benar-benar iri dengan Irfani. Temanku semasa belajar di madrasah dulu ini telah mampu menghajikan kedua orang tuanya yang telah renta. Seperti menunggu bakti anaknya, kedua orang tuanya itu tak meninggal-ninggal hingga demikian sepuhnya. Dan memikatnya, mereka meninggal hampir dalam waktu yang bersamaan kurang lebih seminggu setelah mereka tiba dari berhaji. Kata orang-orang, mereka sungguh meninggal dengan hati yang ikhlas dan lapang. Berhari-hari orang menuturkan kejadian yang sungguh menyentuh itu. Sementara bagiku, jangankan menghajikan kedua orang tuaku, membawakan sekadar oleh-oleh saja buat mereka berdua, saudara-saudara atau keponakan, aku hampir-hampir tak kuasa.
Aku sampai di rumah dengan hati gundah. Rupanya abah, mama dan dua saudaraku sudah menungguku makan malam. Aku langsung bergabung, kulihat sayur asem kegemaranku dan ikan yang dibakar setengah gosong. Dengan tangkas kupenuhi piring nasiku dengan sayur asam dan ikan segar setengah gosong itu. Meski demikian, dalam kepalaku masih tak padam ingin tahuku soal hajinya Pak Munif itu.
Seperti biasa usai makan, kami tidak langsung meninggalkan meja, tapi berbincang dulu banyak hal. Kesempatan ini kugunakan untuk mengungkit-ungkit soal haji itu.
“Tadi di langgar aku bertemu Pak Munif. Rupanya beliau sudah haji!”
“Ya, memang. Tapi hajinya belum jelas …,” sela adikku.
“Hus, tak baik menilai begitu,” sahut abahku sebelum adikku mengakhiri komentarnya. “Biar Allah yang menilai.”
Aku jadi heran. “Memangnya ada apa dengan hajinya Pak Munif?” tanyaku.
“Ceritanya agak panjang. Sampai sekarang pun jadi perbincangan yang belum selesai-selesai,” sahut adikku lagi.
“Menurut beberapa tuan guru, hajinya Pak Munif itu tidak diterima pahalanya alias tidak syah,” lanjut adikku. Sementara aku makin tak mengerti duduk perkaranya.
“Cuma Tuan Guru Haji Abdullah dan Tuan Guru Haji Busran saja yang berpendapat hajinya Pak Munif itu syah. Haji Abdullah juga kan yang sejak awal berpendapat KB itu tidak haram dan menyarankan orang di kampung ini agar ikut KB,” lanjut adikku lagi yang nadanya tak begitu kumengerti ke mana arahnya.
“Lho, apa sebabnya,” tanyaku. “Apa ada rukun atau syarat haji yang tidak digenapinya?” tanyaku. “Atau uang ongkosnya naik haji itu tidak jelas asalnya?” lanjutku dengan agak berprasangka.
“Ah, nggak usah diperpanjang. Tak elok,” abah coba memperingatkan kami lagi.
“Nanti kita dikira hanya orang yang iri saja. Pandang saja itu dari sudut yang baik. Jika Allah memang telah memanggil hambaNya untuk berhaji, ada saja jalannya. Nah, begitu juga dengan Pak Munif,” terang abah bijak.
Aku jadi tambah penasaran. “Ya, tapi memangnya ia naik haji pakai duit apa?” tanyaku ngotot.
“Nah, itulah duduk persoalannya,” jawab kakakku.
“Pak Munif itu bisa berangkat naik haji karena ia menang undian. Ia salah seorang yang sejak sepuluh tahun lalu ikut berKB yang kemudian terpilih dalam … apa namanya itu…?” lanjut kakakku tersendat-sendat seperti mengingat nama sesuatu.
“KB Lestari,” sambung adikku.
“Ya, KB Lestari,…,” sahut kakakku.
Aku tersentak dan baru mengerti. Dalam pikiranku bagaimana lagi mereka yang pergi haji karena hasil undian menang membeli sabun atau sirup? Atau juga yang memakai beaya dinas?

Kenangan perjalanan ke Dalam Pagar, 1990
Catatan:
Jukung: Perahu kayu kecil tanpa mesin motor.
Klotok: Perahu yang lebih besar yang menggunakan mesin motor.
Tuan Guru: Sebuatan untuk kiai di Kalimantan selatan, sebutan lain adalah mu’alim.
Batang: semacam rakit dari kayu balok besar atau bambu sebagai tempat mandi, mencuci, atau buang hajat dengan tempatnya yang sudah dikotaki kecil.
Katuk: Celana yang panjangnya sebatas lutut biasanya terbuat dari kain tetorun.












Intan Galuh Mandika

Cerpen: Hairus Salim HS

Surat bersampul putih itu segera kusambar. Sudah hampir empat tahun terakhir ini aku tak bersentuhan dengan secarik kertas berisi kabar. Dulu, sewaktu masih menjadi mahasiswa, bersurat-suratan tentulah menjadi kebiasaan. Dengan kedua orang tua, saudara, teman, atau bahkan kekasih. Menjadi kesibukan yang mengasyikkan. Sekarang kebiasaan dan kehangatan bersurat-suratan itu telah hilang. Dengan siapapun kini aku lebih sering berkomunikasi lewat telpon, SMS atau e-mail. Alasannya, tentu lebih praktis.
Badan sebenarnya masih terasa penat. Pakaian sepulang kerja belum juga salin. Tapi, nama di sampul surat itu mendesak-desakku untuk segera membukanya. Galuh, teringatlah seorang gadis dengan lesung pipit menghias pipi, sibakan rambut di balik kakamban yang dikenakan, dan kulit yang putih bersih. Inilah nama yang terus memburu lamunanku akhir-akhir ini.
***
Tigapuluh satu tahun usiaku. Dan statusku masih bujangan. Belum menikah seusia itu rasanya tidaklah terlalu tua untuk generasi sekarang, tapi ibuku telah disergap cemas. Katanya, ia ingin segera menimang cucu dari anak laki satu-satunya.
Sebagai antropolog pekerjaanku adalah melakukan penelitian, jauh ke berbagai daerah. Bagai mur ketemu bautnya, pekerjaan ini cocok dengan hobiku berpetualang. Namun ada yang terus menggelisahkanku. Meski sudah sekian kali aku menggeluti dunia penelitian, belum pernah aku menginjakkan kaki di Kalimantan. Padahal pedalaman Sulawesi, Nusa Tenggara, Irian sudah kusambangi, kujelajahi, bahkan juga Serawak, Malaysia, dan negeri Siam. Berkali-kali aku mengajukan proposal baik pribadi maupun kelompok untuk penelitian ke Kalimantan, selalu ditolak. Sebaliknya, yang diterima adalah penelitian di daerah-daerah yang tak begitu menjadi favoritku dan topik penelitian yang sebenarnya tak begitu kuminati. Namun begitulah rupanya pasar penelitian.


Entah, mengapa minatku menggebu ingin berkunjung ke Kalimantan. Seperti ada kekuatan halus yang menyeret-nyeretku untuk datang ke sana. Ya, daya ini mungkin berasal dari cerita-cerita yang kudengar dari kakak-kakakku. Membentuk imajinasi dan rasa ingin tahuku. Kalimantan lalu seperti seonggok kota yang tertanam dalam pikiranku.
Konon ceritanya kakekku berasal dari Banjarmasin. Ia menjadi anggota Tentara Pelajar (TP) di tahun 1950-an. Suatu kali tugasnya di Jawa ia bertemu dengan Rohana, nenekku. Tak lama setelah perkenalan mereka kemudian menikah. Tapi ketika ayahku berusia tiga tahunan, kakekku itu dipanggil ibunya pulang ke Kalimantan. Sejak itu sang kakek tak pernah kembali lagi ke Jawa. Tapi nenek tak pernah membenci kakek dan terus merindukannya. Konon, setiap kali nenek bercerita dan mendongeng kepada kakak-kakakku, gambaran tokoh protagonisnya, sang pangerannya, sang rajanya, selalu diambil dari diri kakek.
Maka sungguh peruntungan yang tak terpermanai ketika proyek penelitianku ke Kalimantan diterima. Sebelumnya aku sendiri tak tahu bagian Kalimantan mana yang mesti kutuju. Tapi pilihanku jatuh pada kehidupan para pendulang intan. Cerita tentang intan dari daerah Martapura sudah sangat terkenal, tapi menurutku, sedikit sekali yang diketahui tentang kehidupan para pendulangnya.
Tapi bumi Kalimantan ternyata tidaklah mudah diakrabi. Cuacanya sungguh sangat panas. Debu-debu penuh beterbangan. Celakanya pagi hari sangat dingin sekali dan berkabut. Tapi orang-orangnya sangat ramah. Itulah yang membuatku tetap betah.
Suatu kali, ketika aku sedang ngobrol dengan Pak Ircham yang sedang mendulang, Galuh muncul di hadapanku. Penampilannya langsung memukauku. Aku seperti menangkap hari esokku. “Jangan-jangan ini jodohku,” pikirku.
***
“Ini Galuh, puteriku,” kata Pak Ircham memperkenalkannya waktu itu.
“O, ya,” sambungku. Kuulurkan lenganku, “Nabil,” sahutku memperkenalkan diri. Dengan agak malu ia mengulurkan tangannya juga. Tegak sebentar lalu menunduk lagi. Seusai meletakkan rantang makanan di dangau, ia langsung pamitan pada ayahnya. Selesai. Terlalu singkat perkenalan itu.
Hari-hari berikut kulihat Galuh selalu lewat di kawasan pendulangan ini. Terutama menjelang waktu Dzuhur, mengantarkan makanan untuk ayahnya, pamannya, dan entah siapa lagi. Memang ia adalah keluarga pendulang intan turun temurun di situ. Setiap kali ia lewat kami hanya bersapaan singkat, saling bertukar senyum, dan dengan sopan ia segera berlalu. Galuh melipatgandakan gairahku meneliti di daerah ini. Ingin aku bersua dengannya. Tapi itu tidak mudah. Adat Banjar yang ditopang ajaran Islam sangat ketat mengatur hubungan laki perempuan. Lelaki perempuan yang bukan muhrim, bukan bagian keluarga, tidaklah bisa leluasa bertemu dan berbincang. Teman kuliahku asal Banjarmasin dulu juga pernah mengingatkan. Hati-hati, jangan menggoda sembarang perempuan kalau di kampung orang Banjar. Perempuan itu kehormatan. Kalau mereka tersinggung, engkau bisa diparang, tuturnya.
Untuk sementara bagiku cukuplah hanya memandang, sambil saling bertukar senyum dan mencuri-curi perhatiannya. Bukankah kami sudah saling diperkenalkan.
Pada suatu hari Galuh tak nampak di pendulangan. Entah kemana ia. Aneh. Pikiranku jadi terganggu karena itu dan rencanaku untuk wawancara dengan seorang pendulang pada hari itu menjadi kacau.
“Bagaimana, mas Nabil, jadi ngobrolnya?,” suara Pak Indar –seorang pendulang yang juga menjadi respondenku– memecah lamunanku, waktu itu.
“Tapi, aku mau badzuhur dan makan dulu ya,” sambungnya sebelum aku menjawab pertanyaannya.
“Ya, ya, baiklah Pak, silahkan shalat dan makan siang dulu. Aku akan tunggu,” jawabku.
“Tapi bagaimana kalau aku berkunjung ke rumah bapak saja nanti malam habis Isya,” sambungku juga tiba-tiba, sebelum Pak Indar menjawab.
“Wah, bagus juga. Sekalian ngopi dan bapapandiran,” jawab Pak Indar.
Permintaanku untuk bertandang saja ke rumah Pak Indar seperti melesat begitu saja dalam pikiran. Mungkin karena aku rasa aku sudah tidak mungkin konsentrasi lagi untuk wawancara. Apalagi setelah kupastikan Galuh tak lewat. Karena tadi yang barusan berlalu mengantarkan rantang adalah Rasyid, adik lelakinya. Jadi dengan serta merta aku putuskan saja untuk menundanya nanti malam.
***
Berkunjung dan kemudian berbincang ke rumah para pendulang itu tentu sudah menjadi rancangan kerja penelitianku. Ini untuk mengetahui kehidupan sehari-hari mereka, bagaimana situasi rumah mereka, perabotan yang dipakai, dan tentu untuk perbincangan yang lebih mendalam tentang pikiran-pikiran mereka.
Menurut hipotesis yang kudapat prapenelitian ini, meski mereka pendulang intan, tetapi kehidupan ekonomi mereka tidaklah secemerlang kilau intan. Pertama-tama tentu saja karena tidak setiap turun mendulang mereka selalu beroleh butiran intan. Tetapi yang lebih utama karena kerja mendulang mereka memang dihargai sangat murah oleh para tetuha luang. Memang para tetuha luang inilah yang menanggung seluruh beaya eksploitasi pendulangan intan dan menjamin kehidupan anak buahnya para pendulang. Di luar kegiatan mendulang, bahkan para pendulang ini sering ikut membantu-bantu di rumah tetuha luang. Kabarnya, tetuha luang ini sendiri modalnya didapat dari para pedagang intan atau pemblantik yang kelak membeli perolehan butiran intan yang belum disepuh itu. Nah, dalam banyak hal, para pedagang intan atau pemblantik inilah sebenarnya yang paling banyak mengambil keuntungan.
Selain itu ada juga mitos yang berkembang bahwa kerja mendulang memang kerja yang “panas”. Artinya uang yang didapat selalu gampang menguap. Cepat habisnya. Cerita yang paling terkenal tentu adalah intan “Tri Sakti” yang pernah ditemukan puluhan tahun lampau. Salah satu intan terbesar di dunia ini mestinya bisa membuat para penemunya makmur seumur hidup bahkan mungkin hingga ke anak cucu. Tapi nyatanya, setelah sempat sebentar mencicipi kehidupan kaya raya dan naik haji, orang-orang itu jatuh miskin lagi. Konon, terakhir beberapa dari mereka menjadi kuli pengangkut barang di Pasar Batuah, Martapura.
Mungkin karena mitos ini pulalah, banyak sekali ritual yang dilakukan sebelum mendulang dan pantangan yang mesti dihindari ketika mendulang. Jika pantangan ini dilanggar, intan tak bisa didapatkan. Atau kalau pun sudah didapatkan ia bisa lenyap kembali. Para pendulang memperlakukan intan seperti makhluk hidup yang bisa bernapas dan bergerak. Bisa datang dan juga bisa pergi. Mempunyai hati dan perasaan. Bisa senang, tapi juga bisa tersinggung dan marah.
Tentu kunjungan ke rumah para pendulang itu penting. Tetapi kunjungan ke rumah mereka ini rencananya setelah pengamatan lapangan kerja pendulangan itu sudah 75% kurampungkan. Tapi tak apa. Bukankah proses penelitian memang tidak selalu sesuai dengan rancangan yang direncanakan. Dan sudah barang tentu, salah satu rumah yang akan kukunjungi nanti adalah rumah Pak Ircham, orang tua Galuh.
***
Hipotesis yang kudapatkan tak meleset jauh. Para pendulang intan memang bukan orang kaya. Kehidupan mereka sangat pas-pasan. Tak ada perabotan mewah dan menarik. Maksimal hanya ada TV 14 Inc hitam putih dan seperangkat kursi tamu sederhana. Rumah mereka rata-rata berbentuk kampung terbuat dari kayu murahan. Pada dindingnya biasanya ditempeli poster-poster ulama setempat atau hiasan kaligrafi Arab.
Demikianlah juga rumah Pak Ircham, ayah Galuh, rumah kelima yang kudatangi. Meski Pak Ircham sudah mengundangku lebih awal, tapi baru sekarang aku memutuskan bertandang. Maksudku, tentu saja, agar motif tersembunyi di baliknya tak kelihatan. Ya, aku harus mampu menahan gelora dan mengelola perasaan. Bukankah kedewasaan seseorang ditentukan dari kemampuannya mengatur perasaan ini.
Tapi perasaan memang tak gampang ditaklukkan. Memasuki rumah Galuh dadaku berkecamuk. Ada rasa gentar. Gila, perasaanku bukan seperti mendatangi responden, tapi calon mertua. Tentu saja aku jadi kikuk, banyak salah tingkah, dan lidah kelu berkata-kata.
“Wa’alaikum salam, silahkan masuk,” jawab Pak Ircham yang mengenakan sarung, baju taluk balanga, berpeci hitam, yang tampaknya memang sudah siap menjamuku.
“Ya, ya terima kasih pak,” sahutku sambil mengambil duduk.
Dan rupanya telah menjadi kebiasaan orang Banjar, tanpa bertanya-tanya keluar segelas teh. Ah, padahal aku paling gampang buang air kecil jika minum teh, pikirku. Tapi aku segera menyadari ada sesuatu yang tampak janggal. O, ya, mengapa yang menyuguhkan teh tadi isteri Pak Ircham. Padahal, kata orang, biasanya yang menyuguhkan itu selalu anak gadis tuan rumah. Kecuali jika di rumah itu memang tidak ada anak gadisnya. Lalu, kemana Galuh? Apakah karena tamunya aku? Apa itu berarti aku tidak disukai? Tanyaku terbang melayang-layang.
“Silahkan mas, diminum? Rumah sepi. Hanya kami berdua. Rasyid tadi pergi ke masjid,” kata Pak Ircham membuka obrolan.
“Kalau Galuh kemana?” tanyaku dengan refleks. Dan sadar dengan pertanyaan yang tiba-tiba dan tanpa kontrol aku seperti hendak menempeleng mulutku. Menghukumnya karena dianggap tak tahu diri.
“O, ya Galuh tadi pagi kembali ke Martapura,” jawab ibunya yang mengambil duduk di sebelah Pak Ircham.
“Ia titip salam padamu. Kemarin-kemarin sebenarnya ia sudah menunggumu, tapi Mas Nabil tidak datang-datang,” sambung Pak Ircham.
Ucapan terakhir Pak Ircham itu sungguh mengagetkanku. Benarkah Galuh kirim salam padaku? Benarkah ia ikut menunggu kedatanganku? Aku jadi senang campur geer berdosis sangat tinggi. Tapi juga perasaan menyesal kenapa nggak dari kemarin-kemarin aku bertandang. Aku segera menata pikiran dan mencoba tenang.
“Ya, salam kembali Pak. Sebenarnya, sedang apa Galuh di Martapura, pak,” tanyaku.
“Ia mengajar di sebuah TK Islam. Minggu kemarin itu kan liburan, dan besok pagi sekolah sudah mulai masuk,” jawab Pak Ircham.
“O, jadi Galuh itu guru ya?” tanyaku.
“Tidak juga. Hanya tenaga honorer,” jawab Pak Ircham lagi.
“Ah, tidak mengapa. Nanti lama-lama juga akan jadi guru tetap,” sahutku.
“Ya, moga-moga. Tapi sebenarnya Galuh ingin melanjutkan kuliah. Di bagian pendidikan. Entah IAIN atau apa itu… kuliah untuk calon guru…?.”
“IKIP,” jawabku.
“Ya, ya IKIP. Itulah kenapa kemarin ia ingin bertemu Mas Nabil. Katanya, ia ingin bertanya-tanya kemana tepatnya ia mengambil kuliah? Juga terutama adakah beasiswa kuliah untuk orang seperti dia. Kami jelas tak mungkin bisa membeayainya,” lanjut Pak Ircham panjang.
“O, itu. Ya, ya nanti coba aku cari informasi,” jawabku berjanji.
Malam itu aku ngobrol dengan Pak Ircham hingga tengah malam. Akrab sekali. Sedemikian akrab, sampai-sampai aku merasa sudah seperti menantunya.
***
Seminggu setelah itu aku kembali ke Yogya. Bagian awal dari kerja penelitianku kurasa sudah cukup. Tapi sebenarnya seminggu itu memang aku sudah tidak bisa fokus pada penelitian lagi. Bayangan Galuh selalu menggodaku. Aku cepat-cepat pulang karena ingin mengetahui adakah kemungkinan beasiswa seorang Galuh. Ah, pasti ada, pikirku. Masalah beasiswa ini betul-betul ingin kutuntaskan, karena tampaknya inilah kunci berhubungan dengan Galuh lagi. Jelas ini bukan kerja tanpa pamrih. Terus terang aku sangat ingin merengkuh Galuh.
Tapi hampir dua bulanan aku mencari-cari informasi beasiswa nyatanya tidaklah gampang. Seluruh relasi sudah aku hubungi. Demikian juga puluhan situs internet yang menginformasikan grant atau fellowship sudah aku jelajahi. Tapi hasilnya nihil. Kebanyakan beasiswa hanya ditawarkan pada calon mahasiswa S-2 atau bahkan S-3. Dan bidangnya pun kebanyakan eksakta.
Barulah dari seorang teman yang baru pulang kuliah dari Malaysia aku mendapatkan kabar baik. Di sana, katanya, ada sebuah lembaga yang memberi bantuan untuk peningkatan sumber daya bagi sekolah-sekolah keagamaan, macam madrasah atau pesantren. Bantuannya berupa beasiswa studi lanjut S-1 atau S-2. Syaratnya gampang: pelamar itu berstatus pengajar, perempuan, dan berusia maksimal 25 tahun.
Galuh jelas cocok dan pantas untuk mendapatkan beasiswa itu. Aku bergirang hati mendengar informasi ini. Melalui surat, cepat-cepat kusampaikan berita ini kepada Galuh dan memintanya segera melakukan pengurusan. Dia bisa mengambil kuliah di Banjarmasin,… atau kalau perlu ke Yogyakarta.
Setelah hampir tiga mingguan barulah suratku itu berbalas. Aku merobek sampulnya dan dengan tak sabar kusimak isinya. Tapi setelah membaca surat bersampul putih itu seluruh sendi tulangku seperti luluh berantakan. Tubuhku langsung lemas. Isi suratnya singkat saja, tapi menyengat perasaanku. “Terima kasih,” tulisnya ”tapi, maaf aku tak bisa memenuhinya.” Menurutnya, ia baru saja melangsungkan pernikahan dengan seorang pemblantik dari Martapura. Sekarang ia pergi umroh dengan suaminya itu. “Tapi, mas jangan khawatir. Seperti yang mas harapkan, ading akan tetap meneruskan kuliah. Suamiku berjanji akan membeayaku kuliah di Banjarmasin, sambil tetap terus mengajar,” tulisnya.
Aku tercenung.
Catatan:
Kakamban: selendang
Badzuhur: melaksanakan shalat Dzuhur
Bapapandiran: berbincang-bincang
Tetuha luang: Patron yang membeayai eksploitasi pendulangan dan menjamin kehidupan para pendulang selama waktu pendulangan.
Ading: adik
Taluk balanga: Sejenis baju kurung lengan panjang dengan warna cerah khas Melayu. Mirip baju koko.
Radar Banjarmasin, 18 September 2005










Kubur Penuh Cahaya

Cerpen: Hairus Salim HS
Sewaktu ia dikuburkan hanya sedikit orang yang mengiringi dan mengantarkannya. Ya, itu pun para tetangga dan kerabat dekatnya. Maklumlah, ia hanya seorang kecil yang tak berharta dan tak punya kuasa. Ia sama sekali bukan orang yang hebat dan pantas untuk terkenal.
Tetapi sehari setelah penguburannya itu, namanya langsung melambung ke seantero desa. Bahkan tiga hari setelah itu keterkenalan namanya sudah berhembus melewati batas-batas desa, menembus udara kecamatan, dan lantas masuk ke kantor-kator, rumah-rumah, dan warung-warung di kota kabupaten. Dan seminggu kemudian namanya sudah menghiasi pembicaraan warga seluruh propinsi itu. Di pasar dan masjid orang ramai membincangkannya.
“Siapa sebenarnya orang itu?,” tanya orang-orang.
“Kuburnya mengeluarkan cahaya.”
“Kompleks pemakaman kampung itu menjadi terang. Padahal di situ tidak ada penerangan listrik sama sekali,” kata seorang dari mereka lagi.
“Siapa sesungguhnya lelaki yang berkubur di situ?”


Orang-orang terus memburu jawaban, memenuhi rasa penasaran mereka. Dugaan-dugaan dan kabar cerita pun beredar untuk menangkap peristiwa yang aneh itu.
“Apakah ia seorang kiai atau guru agama? Himpunan pengetahuan makrifatnya tentu sangat mendalam!”
“Ah, bukan. Kabarnya ia hanya seorang pedagang kecil keliling.”
“Ya, itu yang tampak di permukaan. Tapi kita tidak tahu pasti siapa sebenarnya dia.”
“Siapa pun dia, yang pasti ia seorang wali.”
***
“Siapakah lelaki yang kuburnya memendarkan cahaya itu?”
Sewaktu lelaki itu dikuburkan kabarnya hanya sedikit orang yang mengantarkannya. Waktu itu hujan gerimis dan jalan menuju kuburan itu becek. Sedemikian tidak pentingnya lelaki itu, Kepala RT pun bahkan tak hadir dalam upacara penguburannya itu.
“Tetapi, kerandanya ringan sekali. Ini kata orang yang mengusungnya…lho,” kata orang itu meyakinkan ceritanya.
“Tanah kuburnya juga sangat gembur sewaktu digali.”
“Wah, sungguh luar biasa. Padahal tanah di daerah situ terkenal keras. Kan itu tanah perbukitan berbatu,” sahut yang lain.
“Apa benar kuburnya bercahaya? Jangan-jangan itu hanya permainan akal-akalan lewat teknologi listrik yang disalurkan dari bawah tanah?,” tanya seseorang yang tampak belum percaya betul dengan kabar itu. Suaranya rendah penuh kehatian-hatian, khawatir menyinggung mereka yang sudah kadung percaya.
“Ya, sulit dipercaya memang.”
“Teman kita si Razak kabarnya kemarin sudah ke sana. Tapi, ia katanya, sama sekali tidak melihat kubur itu memancarkan cahaya,” sambung seseorang.
“Ah, kalau si Razak yang berkunjung ke sana pasti tak akan bisa melihat cahaya itu, karena kepalanya sudah dipenuhi nomer judi buntut. Razak memang pemuja kuburan. Aku sudah menduga Razak ke sana, tapi ia pasti tak beroleh apa-apa, karena ia tak punya niat yang benar. Razak tak bisa kita percayai.”
“Ya, benar kubur itu memang membinarkan cahaya. Aku bersaksi, tapi jangan salah mengerti. Kubur itu tidaklah sepanjang malam memancarkan cahaya. Hanya sesekali,” seseorang yang tampaknya sudah mengunjungi kubur itu menyela.
“Sungguh, itu pun waktunya tidak lama. Sebentar sekali. Kadang bahkan hanya seperti kilatan cahaya,” sambungnya lagi.
***
Kubur yang disebut-sebut memancarkan cahaya itu betul-betul menyita perhatian masyarakat. Meski mereka tidak tahu siapa sebenarnya orang yang berkubur di dalamnya, mereka tetap meyakini bahwa cahaya yang memancar dari kuburan itu sebagai karamah yang dianugerahkan Allah. Dan orang yang berkubur di dalamnya pastilah seorang yang karim juga di sisi Allah. Seorang wali. Maka, berduyun-duyunlah mereka berziarah ke sana untuk memetik berkah dari karamah itu.
Kampung yang semula sepi dan terpencil itu lalu mendadak menjadi ramai. Ribuan orang setiap hari datang ke sana. Jalan yang membentang menuju kampung itu sesak oleh deretan panjang parkir mobil. Halaman-halaman rumah dan tegalan kering disulap menjadi lahan parkir motor. Warung-warung makan serentak berdiri. Para penduduk sekitar juga membukakan pintu rumah mereka lebar-lebar buat para penziarah yang ingin beristirahat, mandi atau buang hajat. Suasana sekitar pemakaman kampung itu penuh orang, sibuk dan riuh-rendah seperti layaknya makam wali-wali terkenal di pulau itu di saat perayaan haul mereka.
Tapi sampai sejauh itu tak ada seorang pun yang tahu siapa sebenarnya lelaki yang kuburnya mengundang kehadiran ribuan penziarah itu. Kabar tentangnya berhembus bagai angin. Terasa ada tapi tak tertangkap wujudnya. Hingga sebuah koran lokal melaporkan dalam sebuah featuresnya yang panjang. Siapa lelaki itu dan mengapa kuburnya penuh cahaya, begini menurut koran tersebut:

Lelaki itu bernama Hamad. Menurut cerita istri dan dua orang anaknya, ia seorang pedagang minyak keliling. Setiap hari ia pergi ke kota propinsi untuk menjajakan minyaknya. Tapi, baik istri maupun dua anak yang ditinggalkannya itu, tak sungguh-sungguh tahu apakah Hamad, suami dan ayah mereka itu, benar-benar seorang penjaja minyak keliling. Ini lantaran tak seorang pun dari mereka pernah melihat langsung ia berkeliling menjajakan minyaknya itu. “Penjaja minyak,” itulah jawabannya setiap kali ditanya oleh istri, anak atau orang kampung tentang pekerjaannya di kota.
Hamad bukan asli kelahiran kampung itu. Konon, ia berasal dari daerah di bagian utara. Tak dijelaskan apa latar pendidikannya. Tapi yang terang ia cukup pandai membaca Latin maupun Arab.
Kehidupan ekonomi keluarga itu pas-pasan. Tidak berlebih tidak juga kekurangan. Untuk ukuran kampung itu, Hamad dan keluarganya jelas bukan dari golongan kaya. Tengah-tengah pun tidak, meski tidak juga keluarga miskin. Di rumahnya hanya ada seperangkat kursi tamu, sebuah televisi hitam putih dan radio. Semuanya sudah tua, namun masih terawat dengan baik dan jelas terus dipakai sehari-hari. Lalu, sebuah rak buku dan kitab yang tak lagi ada isinya. Kata istrinya, dulu rak itu penuh dengan buku-buku dan kitab. Tapi sekitar tiga tahun yang lalu, kitab-kitab itu diangkut suaminya sedikit demi sedikit entah kemana. Apa mau dijual atau dihibahkan mereka juga tidak tahu persis. Hamad hanya bilang ada orang yang lebih membutuhkan.
Sebagai suami dan ayah, mereka memang mengakui Hamad sebagai seorang yang kasih, lembut, dan bertanggung jawab. Tapi lebih dari itu, ibu dan kedua anaknya itu tak melihat lelaki itu istimewa. Maksudnya, seorang yang terkemuka setidak-tidaknya untuk ukuran kampung itu. Dalam hal keagamaan misalnya, ia tak pernah menjadi imam, khatib jumat atau memimpin doa. Demikian juga dalam hal politik, ya politik tingkat kampunglah. Ia tak pernah memimpin rapat kampung, mengacungkan tangan untuk mengajukan usul, melakukan interupsi atau protes atau pun yang lainnya. Hamad dalam hal apapun betul-betul warga biasa. Memang dalam setiap pertemuan kampung selama tak ada aral ia senantiasa hadir. Tapi selalu saja ia duduk di pinggiran atau di luar ruang petemuan sama sekali karena ia bukan dan memang tidak dianggap orang penting. Ia biasa shalat berjamaah, namun tidak rajin-rajin amat. Pengajian pun hanya sesekali ia datangi. Meski sesekali ikut, tapi ia tak larut dalam semangat keagamaan yang dipompa oleh para ustadz muda berjenggot dan berpakaian putih-putih keluaran universitas yang kini mendominasi kehidupan keagamaan dan politik di kampung itu. Pendeknya tak ada yang hebat yang bisa dicatat darinya.
Tapi ada satu hal yang selalu diingat oleh orang kampung tentang Hamad. Ia orang yang tak pernah alpa takziah kalau ada tetangganya yang meninggal dan ziarah kalau ada tetangganya yang sakit. Siapapun mereka dan apapun partai dan golongannya. Mereka yang lebih sering kelihatan di warung yang di ruang bagian belakangnya ada meja judi dan penjualan togel dan tak pernah tampak di masjid dan pengajian pun tak luput ia kunjungi jika orang-orang itu tertimba musibah.
Apakah karena yang terakhir ini yang membuat kuburnya terang memancarkan cahaya? Entahlah. Tak ada yang bisa memastikan. Tapi bagian akhir laporan koran itu mengemukakan suatu ‘fakta’ penting yang disebut berasal dari ‘sumber yang tak mau disebutkan namanya’ bahwa Hamad di kota sebenarnya membina dan mendampingi anak-anak yatim piatu dan anak-anak jalanan. Menariknya, di kota itu namanya bukan Hamad, tapi Zainuri. Kerja pendampingan itu kabarnya sudah dilakukannya lebih dari 20 tahun. Dan sekarang –menurut laporan koran itu— Hamad alias Zainuri itu sedang membangun sebuah rumah singgah untuk anak-anak jalanan dan sebuah pondok untuk anak-anak yatim piatu. Kedua bangunan itu baru selesai 20% dan sepeninggal Zainuri, e maksudnya Hamad, dikhawatirkan kelanjutan pembangunan kedua gedung itu akan terbengkalai.
***
Laporan koran itu betul-betul membuat terkesima para pembaca. Warga kampung itu sendiri menjadi takzim pada Hamad. Tak pernah mereka kira bahwa di kampung mereka ada seorang yang berhati tulus dan kasih sekaligus rendah hati, seorang penderma yang bahkan tangan kirinya pun tak tahu kalau tangannya kanannya itu menderma. Para petinggi dan tokoh agama di kampung itu menjadi malu dan merasa bersalah karena selama ini menganggap remeh Hamad atau orang biasa seperti Hamad. Mereka bahkan sekarang sering jadi salah tingkah. Para petinggi –tidak seperti biasanya– enggan berpanjang-panjang dalam sambutan, malu kalau di antara hadirin ada yang seperti Hamad. Para khatib dan ustazd yang biasa memberi nasehat jadi sungkan, khawatir kalau di antara pendengarnya ada lagi orang yang seperti Hamad. Para imam dengan perasaan minder maju ke depan, jangan-jangan, pikir mereka, di antara makmumnya ada orang yang maqam-nya juga setara Hamad. Peristiwa Hamad menjadi pembelajaran hidup buat mereka untuk lebih rendah hati dan menjaga hati.
“Istimewanya Hamad, karena ia bisa menyingkirkan sikap ria dan uzub dari hatinya,” komentar seorang ulama yang dikutip koran itu.
Setelah laporan koran itu, kubur Hamad semakin banyak diziarahi orang. Siang malam tak henti-henti. Mereka bahkan datang dari luar kota yang jauh sekali.
Sebuah kepanitiaan dengan berbagai seksinya lalu dibentuk untuk mengatur keperluan para tamu penziarah itu. Atas usul seorang tokoh muda yang khawatir dengan kelurusan niat dan tingkah polah para penziarah, selembar papan bertuliskan peringatan: “Silahkan berziarah. Hindari syirik, jangan meminta pada kuburan!” dipancangkan persis di depan pintu masuk kompleks pemakaman.
“Bagaimanapun, para penziarah itu tamu di kampung ini. Kita wajib menyambut dan menjamu mereka sebaik-baiknya,” ucap modin yang secara aklamasi terpilih sebagai ketua panitia.
Lalu, sebuah kotak amal besar terbuat dari kaca tembus pandang diletakkan di depan kubur Hamad. “Hasil kotak amal akan disalurkan untuk meneruskan pembangunan rumah singgah dan pondok yatim piatu yang digagas almarhum Hamad,” demikian tulisan dengan kapur tulis di atas papan hitam kecil di depan kotak amal itu. Dalam sehari kotak amal itu penuh uang kertas empat hingga lima kali. Dan dalam beberapa minggu ratusan juta telah terkumpul.
“Saya rasa, sebenarnya kewajiban kita bukanlah untuk menjaga kubur ini, tetapi meneruskan usaha almarhum,” bisik seorang warga kampung.
“Tapi Allah punya cara. Allahu akbar,” kata seseorang, “meski orangnya telah tiada dengan kebesaranNya namun niat tulusnya tetap terus berjalan.”
Dan benar, tak sampai setahun kedua gedung sederhana yang digagas almarhum itu tuntas dibangun plus meja kursi serta seperangkat keperluan alat tulis kantor. Semua uangnya berasal dari kotak amal di depan kubur penuh cahaya itu. Lalu beriring dengan itu cahaya yang sesekali memancar dari kubur itu semakin meredup dan akhirnya tak muncul-muncul lagi. Menyusul itu, jumlah para penziarah pun mulai menurun dan sepi.
“Semoga cahaya itu berpindah ke lubuk hati mereka yang kasih dan tulus,” demikian doa Pak Modin.
Kompleks pekuburan itu pun kini kembali sepi.
Majalah Syir’ah, Maret 2005










Oleh-Oleh

Cerita: Hairus Salim HS

Untuk kesekian kali aku datang lagi ke Bali. Kalau dulu kali pertama aku berkunjung untuk belajar dan menambah pengetahuan melukisku, sekarang untuk kepentingan pameran lukisan. Bagaimanapun, suasana hati setiap kunjungan selalu saja berbeda.
Kendati demikian, entah mengapa setiap kali menginjakkan kaki di pulau ini aku tetap selalu teringat kakek. Ya, itu mungkin karena ketika pertama kali berkunjung ke pulau ini beberapa tahun lalu kakek melarangku dengan keras.
“Untuk apa jauh-jauh ke Bali. Di Yogya kan juga banyak guru menggambar. Ada banyak sanggar melukis,” kata kakek waktu itu.
“Beda!”
“Beda apanya?”
“Beda, di Bali lebih alamiah, kalau di Yogya terlalu teknis.”
“Lho, kan sama-sama lukisan toh.”
“Di Bali lukisan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Lukisan penuh penjiwaan, dan karena itu goresan dan pewarnaannya sangat bertenaga dan bernyawa. Aku juga ingin melukis alam Bali yang indah dan upacara ritualnya yang menakjubkan,” aku mencoba menjelaskan agak panjang.
“Ah, apa bedanya, di sini juga banyak tempat yang indah. Kau bisa ke Parangkusomo atau ke Merapi sana.”


Aku tak menjawab dan memilih diam. Kupikir tak ada gunanya berdebat dengan kakek. Ia tak akan mengerti apa yang sedang menyala dalam pikiranku. Tegahannya kutabrak dan aku tetap berangkat ke Bali. O, ya waktu itu umurku 21 tahun, jadi sekitar lima tahun yang lalu.
***
Orang lain mungkin kesulitan memahami mengapa kakekku tidak begitu suka aku ke Bali. Tapi bagiku, hal itu cukup mudah dimengerti. Kakek, kata ibu, lahir dan besar di lingkungan pesantren. Ayahnya seorang kiai dan ibunya tentulah seorang nyai. Ia dengan demikian seorang santri tulen.
Dulu waktu ayah pacaran sama ibu, kakek sangat menentang keras. Terlebih ketika ayah nekat mau menikahi ibu. Itu karena ibu bukan dari latar belakang keluarga santri. Ibu bahkan boleh dikata berasal dari keluarga abangan. Ayahnya seorang pelukis merangkap penjual benda-benda seni. Sungguh suatu pertemuan yang ganjil. Entah, bagaimana prosesnya jika kemudian ayah dan ibu akhirnya tetap menikah juga, aku tak tahu. Tapi aku tak lebih paham lagi bagaimana ayah yang anak seorang kiai itu bisa bertemu dengan ibu yang anak seorang pelukis abangan.
Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa keberatan kakekku ke Bali itu berkait dengan pandangan keagamaannya. Baginya, Bali yang dihuni mayoritas pemeluk Hindu itu adalah negeri para pemuja berhala.* Hindu bukan Islam, tapi juga bukan Kristen atau Yahudi yang notabene masih dianggap sebagai bagian dari ahl al-kitab. Mereka masih dipandang sebagap kaum pagan. Kakek rupanya sangat mengkhawatirkan kesetianku pada agama.
Waktu usia SMP aku pernah dipondokkan di sebuah pesantren. Pesantren itu diasuh oleh seorang kiai yang juga karib kakekku. Rupanya gagasan mengirimkan aku ke pesantren ini berasal dari kakek. Ia khawatir besar cucunya tidak mengerti ajaran agama. Nyatanya memang tiga tahun mondok di pesantren itu membuatku tidak saja bisa mengaji dan memahami dasar-dasar hukum agama, tapi yang terutama aku jadi lebih bisa memahami kakek dan keluarga pesantrennya. Tinggal di pesantren itu juga sangat memberiku banyak pelajaran dan pengalaman hidup yang luar biasa sebagai manusia. Sungguh!
Sebelumnya, terus terang aku lebih dekat pada ibu dan keluarga ibu. Minatku pada seni tentu juga berasal dari sana.
Demikianlah, aku akhirnya tumbuh dalam dua dunia: seni dan agama. Jika banyak orang meratapi tercerai-berainya agama dan seni, aku bisa bilang bahwa di dalam jiwaku keduanya itu menyatu. Ya, meski dalam aktivitas keseharian, seni jugalah yang banyak memikatku.
***
Meski kakek melarangku ke Bali dan naik pitam ketika aku tetap juga berangkat, tapi itu tak mengurangi penghormatanku padanya. Kakek, di mataku, tetaplah orang yang sangat berbudi. Hatinya sesungguhnya bersih dan mulia. Kalaupun pandangan keagamaannya tampak sempit demikian, itu tidak berarti ia memiliki rasa benci pada mereka yang berbeda agama dengannya. Dalam pergaulan dan urusan sehari-hari sering kulihat kakek bisa bersua dan bersitatap hangat dengan mereka yang berbeda agama dengannya. Ini yang ajaib dari kakekku, ia orang yang sangat teguh memegang pendirian tapi pada saat yang bersamaan juga sangat toleran dengan perbedaan pendapat.
Penghormatannya pada kemanusiaan sangat tinggi. Ia kerap kali terenyuh dan meneteskan air mata ketika menyaksikan penderitaan anak manusia. Ia bisa juga sangat marah sekali melihat penindasan. Mungkin ini diperolehnya dari persentuhannya yang akrab dengan masyarakat desanya atau juga dari kegemarannya membaca banyak jenis buku. O, ya, dari kakek jagalah aku ketularan gila membaca.
***
Pertengkaran kecil dengan kakek sebelum kepergianku itu membuatku selalu teringat kakek sepanjang dua bulan pertamaku di Bali. Aku berpikir sepulangnya nanti akan membawakannya oleh-oleh sekaligus meminta maaf padanya.
Tapi aku bingung oleh-oleh apa dari Bali ini yang cocok untuk kakek? Yang manarik tentu lukisan, patung atau topeng Bali sebagaimana umumnya yang dibawa orang sepulang pelesir dari Bali. Tapi membawakan benda-benda ini pada kakek sama saja dengan mengacungkan kapak pertengkaran baru. Kakek tidak terlalu senang dengan segala jenis gambar terlebih patung berada di dalam rumah. Menurutnya, rumah yang di dalamnya ada gambar orang dan patung tak akan dimasuki oleh Malaikat Rahmat, malaikat yang diyakini bertugas menebarkan kasih dan sayang pada manusia.
Ya, meski begitu, sekali lagi, itu bukan berarti kakek berpantang masuk ke rumah orang yang penuh lukisan atau patung seperti rumah kakekku dari pihak ibu. Ia juga tidak meledak marah melihat tempat tinggal orang yang sesak dengan gambar. Tidak, itu sepenuhnya pandangan pribadi yang ia terapkan terbatas dalam lingkup keluarga dekatnya saja. Kakek sungguh tak pernah memaksakan pendapatnya.
Menjelang pulang, aku jalan-jalan ke pasar souvenir di Ubud. Barangkali ada yang cocok buat oleh-oleh. Ketika sedang melihat-lihat itu, mataku terpaku pada banyak baju kurung berwarna putih bersih dengan kerah Cina yang terbuat dari kain katun tipis dipajang di antara berbagai souvenir. Aku ingat itu adalah baju yang biasa dipakai lelaki Bali untuk mengikuti upacara. Setelah kuamati lebih dekat, baju itu kurasa mirip dengan baju koko yang biasa dipakai lelaki muslim untuk shalat. Bedanya, mungkin hanya kalau baju itu berlengan pendek sementara baju koko berlengan panjang. Tiba-tiba tercetus pikiranku untuk membeli baju itu saja dan menghadiahkannya pada kakek.
Demikianlah, sepulang dari Bali aku langsung sowan ke kakek, mencium takzim tangannya, dan menghadiahkan dua baju itu padanya.
“Kek, ini oleh-oleh dari Bali.”
“O, terima kasih,” katanya datar sambil meletakkan bungkusan baju itu di atas meja.
“Baju itu bisa dipakai untuk shalat,” lanjutku.
Tapi kakek tak merespon penjelasanku. Tampaknya ia masih sedikit memendam marah karena keberatannya yang kubantah. Tapi tak mengapa, kesediaannya menyambut pemberianku dan tak menyipratkan marah itu saja sudah cukup buatku.
Beberapa minggu kemudian kulihat baju itu telah dipakai kakek untuk shalat. Bahkan kedua baju itu tampak lebih sering dikenakannya dari baju koko lainnya. Ya, mungkin karena masih baru. “Enak, lengan pendek, tidak panas,” katanya suatu hari. Kakek tampaknya sungguh-sungguh menyenangi baju itu. Dan aku pun turut bangga dan senang.
***
Kini aku menginjakkan lagi kakiku di Bali. Kenangan pada kakek selintas lalu muncul kembali. Juga pada baju koko itu. Aku tidak tahu, apakah kakek tahu kalau baju seperti itu di Bali dipakai untuk kepentingan upacara di Pura. Dan seandainya ia tahu, entah bagaimana reaksinya? Yang jelas kakek tak pernah menanyakan hal itu. Sampai akhir hayatnya dua tahun yang lalu, baju itu kulihat terus dipakainya dan sepertinya menjadi baju favoritnya.
Kini kakek telah tiada. Tenang di angin barat sana. Tapi caranya bergaul dengan orang yang berbeda pandangan dengannya menjadi pembelajaran hidup buatku. Setelah ia tiada kini terasa betapa ia banyak membentuk gagasan dalam hidupku belakangan ini.
Tiba-tiba perasaanaku ingin membeli baju itu lagi. Tentu, bukan buat kakek lagi. Tapi, buatku sendiri.
Majalah GONG, No. 68/VII/2005









Teratai Kota

Cerpen Hairus Salim HS
Hujan pagi hari. Tak mungkin untuk berkeliling kota ini. Kalau pun ada angkutan mobil itu juga tetap tak menyenangkan. Selokan-selokan kota yang kecil, mampet, penuh sampah. Tak akan mampu menampung luapan air dari langit yang begitu deras dan tak henti. Kali-kali kecil yang dulu berjejeran indah membelah kota semestinya bisa menjadi pelimpahan air. Tapi kini atasnya telah dibangun rumah-rumah dan bagian bawahnya sudah buntu oleh sampah. Jalan-jalan terendam hingga setengah kaki. Lalu, setelah itu becek dan kubangan air di mana-mana. Dan, jalan kota yang memang sudah sejak awal sempit itu pastilah macet.

Maka, pilihanku kini hanyalah duduk di dangau ini. Memandang ilalang yang kian meninggi. Taman yang tak lagi rapi. Pucat dan sepi. Jika pun ada yang tetap membahagiakan, mungkin karena kau, Citra, dan sehimpunan teratai yang tumbuh indah di kolam-kolam air dengan bunganya yang berwarna-warni. Cerah dan segar disiram hujan. Sungguh seperti cahaya bagi taman yang pasi. Tapi bagiku, kaulah Citra, teratai yang paling indah itu. Aku menunggumu, terataiku!
***
Aku menyandarkan punggungku. Menyedot dalam-dalam rokok dan membiarkan pikiranku menerawang jauh. Entah sudah berapa kali aku datang ke kota ini. Tapi setiap kali menginjakkan kaki, selalu ada bimbang yang merenggus. Hasrat besar untuk bertandang berbalik serentak menjadi kemauan lebih besar untuk segera pulang justru setibanya aku di kota ini. Kota masa lalu yang aneh. Kota yang telah kehilangan cinta.
“Madu, bang!” seorang panjaja menghampiriku. Mengganggu temaram lamunanku. Seluruh pakaiannya basah kuyup. Tapi wajahnya tetap cerah. Tampaknya ia datang dari daerah gunung yang jauh. “Ini madu hutan, bang. Asli, boleh dites!”
Aku memandang wajahnya, mencoba menyelami kejujurannya.
“Aku ingin madu hasil percumbuan kumbang dengan bunga teratai,” tanyaku.
“Ah, tidak ada. Di hutan kami tidak ada teratai. Lagi pula mana ada kumbang yang senang mencumbu teratai.”
“Ya, mestinya ada dong. Bukankah kota ini penuh dengan teratai. Di mana-mana teratai. Ada bunga pasti ada kumbang,” sahutku.
“Lihat itu, mana ada kumbang hinggap di bunga teratai,” katanya tersenyum kecil sambil telunjuknya menjurus ke arah himpunan teratai yang tersebar tak jauh dari depanku duduk.
“O, tentu saja. Kan sekarang sedang hujan,” tangkisku.
“Saat musim panas pun tidak,” jawabnya lagi.
“Bunga teratai tak banyak mengandung sari yang manis di dalamnya. Kumbang tak menyenanginya.”
Aku jadi heran mendengar penjelasannya. “Mengapa, demikian?” tanyaku.
“Entahlah, mungkin sudah takdirnya. Lihat saja, teratai-teratai itu tidak sengaja ditanam. Tak ada perawatan dan penjagaan khusus. Mereka tumbuh bebas dan liar. Teratai itu tak berharga. Tak ada yang menjualnya di kota ini. Setiap akhir bulan orang bahkan sering direpotkan untuk menebas dan membersihkannya.”
“Ia memang tidak ditanam oleh tangan manusia tapi diutus Tuhan langsung,” jawabku sekenanya.
“Bukan diutus, tapi dihukum buang, diusir…,” jawabnya lebih jitu.
“Berapa memang madu ini?,” tanyaku memotong bicaranya sebelum ia lebih jauh mengutuki teratai-teratai itu.
“Murah meriah, lima puluh ribu saja.”
“Aku ingin yang botol kecil saja.”
“Oo, kalau itu dua puluh ribu.”
Segera kurogoh duit dari dompetku. Mengambil botol madu kecil itu, menyerahkan lembaran dua puluh ribuan dan berharap agar laki-laki itu segera berlalu. Aku ingin kembali pada lamunanku tadi. Tapi riwayat teratai kota yang diutarakan si penjaja madu itu terus mencegat lamunanku. “Benarkah teratai-teratai itu tumbuh juga tanpa cinta?” Batinku bertanya.
***
Hujan terus berlangsung. Meski sudah tak sederas dua jam-an yang lalu, tapi kata orang hujan seperti ini justru akan berlangsung awet. Sementara taman masih sepi meski waktu sudah lebih pukul duabelas siang. Kalau tak hujan tentulah kota ini sudah meregang dipanggang sinar panas matahari. Dan debu-debu beterbangan dihempas bising lalu lintas. Hanya beberapa pedagang makanan yang bersiap menggelar jualan sambil menunggu hujan lewat. Dan di ujung sana, di sebuah warung yang ramai orang mengobrol, sesekali meluncur tawa ngakak yang keras. Semestinya aku mampir ke warung itu dulu mengisi perutku yang sedari tadi pagi belum diisi sama sekali. Tapi aku serasa tak berselera makan apapun. Aku kembali memandangi teratai-teratai itu.
Rupanya, harus mulai dari awal lagi lamunanku tadi kurajut. Tapi betapa terkejutnya aku. Teratai warna ungu yang bertengger di tengah-tengah kolam itu justru seperti memandangiku. Ia seperti mempunyai mata. Aku mengusap-usap biji mataku dan kembali memandang teratai itu. Benar, teratai itu justru menatapku. Kami bersitatap. Bola matanya bundar dan tajam. Ia seperti menertawaiku. Segera kualihkan pandanganku pada teratai berwarna jingga yang batang-batangnya terjepit di sela-sela papan ulin yang mengelilingi kolam itu. Ah, teratai itu ternyata juga bermata. Ia juga sedang menatapku. Bahkan lebih tajam lagi, mengejekku. Aku pindahkan mataku pada teratai yang lain. Kualih-ubah dan kuputar bolak-balik pandangku pada seluruh teratai yang ada di kolam itu. Satu-persatu. Sungguh semuanya mempunyai mata. Semua mereka memandangiku. Mengejek dan menertawaiku.
Apa yang terjadi? Apakah teratai-teratai itu marah padaku karena telah kuketahui riwayat sedih mereka? Tentu itu tidak adil dan semena-mena. Semestinya mereka menumpahkan marah pada lelaki penjaja madu yang lancang menyingkap rahasia itu pada seorang asing pendatang. Bukan pada aku, karena aku hanyalah tertuduh yang menjadi penadah tak sengaja dari cerita itu. Tapi apakah hal itu benar-benar merupakan rahasia? Karena jika tidak dari penjaja madu itu mungkin saja aku akan mendapatkan cerita itu dari warga kota yang lain. Mungkin juga dari tuturan kau, Citra!
Ataukah terata-teratai itu justru mengejekku karena aku mempunyai kisah yang jauh lebih menyedihkan dari derita yang mereka tanggung? Ah, masa! Mengapa sesama penyandang lara saling bermusuhan? Mengapa, kupikir, kami tidak saling berbagi dan bersekutu saja?
Aku segera berdiri karena duduk kurasa sudah tak nyaman lagi. Pandangku sengaja kulepas dan kujauhkan dari teratai-teratai itu, meski mereka tampaknya tetap terus memplototiku. Tak mungkin mereka menyerangku secara fisik, tetapi pandang mereka jauh lebih menusuk. Satu-satunya strategi hanyalah menghindar bersitatap dengan mereka. Tapi tak bisa. Karena hampir seluruh taman ini ditumbuhi teratai. Segala sesuatunya adalah teratai. Dan aku tak kuasa. Di luar kontrol pikiranku, mataku selalu ingin melirik mereka dan lekas-lekas kutarik lirikan itu ketika tahu mereka masih tetap memplototiku.
Sungguh menakutkan! Semestinya aku harus segera meninggalkan taman ini. Tapi tak mungkin. Hujan belum reda dan lagi pula aku masih harus bersabar menunggumu, Citra! Aku berusaha tak peduli pada teratai-teratai itu. Kunyalakan lagi rokok, sebatang terakhir yang tersisa. Pandangku kuluruskan ke depan dengan agak ke atas. Terarah pada satu benda saja, pucuk bangunan bertingkat empat yang berdiri sekitar 200 meter dari taman kota itu. Sedap kusedot rokok dan kusandarkan lagi punggungku. Sementara lutut kananku kuangkat ke atas dan kudekap dengan dua tangan. Perlahan pikiranku mulai beranjak untuk kembali mengembara. Meloncat-loncat, nikmat. Kota itu kutinggalkan. Lalu, aku berada di Jakarta di sebuah rumah berwarna kuning dengan halaman yang luas yang ditumbuhi pohon mangga, markisa, dan anggur, serta suplir dan kamboja, dan entah apa lagi. Aku duduk membaca novel di taman rumah itu.
Tiba-tiba aku tertawa ramai dengan teman-teman lamaku di ujung acara rapat kerja di sebuah villa di Puncak. Mandi-mandi dan bercengkerama di sebuah telaga di luar kota Yogya bersama teman-teman klub penggemar nonton bola. Jalan-jalan di kompleks pertokoan barang antik di jalan Surabaya Jakarta. Lalu aku datang lagi di kota ini, mengunjungi teman lamaku, berkeliling dengan perahu motor, menghadiri pertemuan alumni, dan duduk lagi di taman ini, seperti sekarang ini. Lamunanku tiba-tiba tersela.
Ah, mengapa aku kembali lagi ke taman ini? Aku meronta, melawan, mencoba menarik diri pada jalur lamunan semula. Tapi tak bisa. Berat sekali. Serasa ada sesak yang mendesak. Mataku coba tetap kuluruskan ke depan agak ke atas, ke pucuk bangunan bertingkat empat itu. Tapi, bangunan itu perlahan bergerak seperti mau rebah. Aneh, padahal tak ada angin badai ataupun gempa. Oh, bangunan itu sungguh-sungguh mau rubuh. Kemiringannya mengarah ke tempatku duduk. Semestinya aku lekas menghindar, menyelamatkan diri. Masih ada kesempatan, pikirku. Tapi sandaran punggungku keburu patah dan tempat dudukku hancur. Tanganku mencoba mencari-cari pegangan tapi tak ada. Tubuhku seperti kehilangan keseimbangan dan akhirnya ambruk mendekap tanah. Lalu, pandanganku terasa gelap. Pekat. Nanar.
***
Ketika tampak kulihat ada seberkas binar terang, aku merasa seperti terbangun dari tidur yang panjang. Badanku terasa lemas dan pegal-pegal. Samar-samar kulihat warna putih sekelilingku, dan juga beberapa orang –di antaranya berbaju putih-putih—berdiri di sampingku. Lalu, aku mencium bau obat, aroma sebuah bangsal rumah sakit. “Jadi tidak ada seorang pun yang kenal orang ini, ya?” lamat-lamat kudengar suara seseorang bertanya. “Tidak! Kata orang-orang yang mengusungnya ke sini, ia memang laki-laki aneh. Hampir seharian ia sendirian di taman kota itu. Sebentar berdiri, duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Pandangannya tajam selalu menatap ke arah depan seperti tidak peduli pada orang di sekitar. Dan tiba-tiba mereka hanya mendengar tubuhnya ambruk,” jawab seorang perempuan berbaju putih itu. “Ia tidak apa-apa. Tubuhnya sehat. Hanya tampaknya ia menanggung beban banyak pikiran,” sambung lelaki yang bertanya tadi. “Depresi, dok?”
“Yach, mungkin. Yang pasti fisiknya sangat lemah, tampaknya perutnya dari tadi malam belum kemasukan apapun. Tolong kalau ia bangun kasih dia makan dan minum. Sekarang biarkan ia istirahat dulu. Aku sudah memberinya suntikan.”
Ah, rupanya mereka membincangkan diriku. Aku mencoba perlahan membuka mata. Melihat-melihat siapa-siapa mereka yang berdiri di samping tidurku. Samar, tak seorang pun dari mereka yang kukenal.
“Ah, kau Citra, ternyata belum juga datang,” batinku mengeluh. Lalu, aku penjamkan lagi mataku yang terasa sangat mengantuk. Aku ingin bermimpi saja.
Radar Banjarmasin, Minggu 17 April 200




Paaliran Caran

Hairus Salim HS
Caran berdiri tegar di atas jukung itu. Tubuhnya basah kuyup. Dari seluruh badan dan rambutnya masih mengalir tetes-tetes air. Matanya memerah, karena sedemikian lamanya menyelam. Dan kulit jemarinya mengeriput karena lama terendam.
Arus deras sungai menghantam badan jukung yang diikat di bekas batang pohon Kariwaya. Jukung tampak terbawa arus ke hilir dan hulu. Terombang-ambing. Namun Caran tegak tak goyah.
Ia kembali mengenakan pakaian kebesarannya. Baju dan ikat kepala berwarna kuning jingga. Meski kuningnya telah kumal dan luntur, pantulannya tetap berpendaran tertimpa sinar matahari menjelang senja. Mandau dengan sarungnya yang berukir dan penuh manik tulang belulang kering, berhulu tanduk rusa terselip di pinggangnya. Caran adalah seorang paaliran. Seorang pendekar sungai dan pawang buaya.
Orang-orang di tepian sungai yang menyaksikannya berdecak kagum. Juga para petinggi desa, kecamatan dan beberapa staf pimpinan PT Adhi Wana, perusahaan penebangan kayu yang beroperasi di kawasan itu .

“Luar biasa, ia bisa menyelam berjam-jam,” kata salah seorang staf pimpinan itu heran. “Syukurlah, ia kembali,” kata pambakal. “Mari kita tanyakan bagaimana kabar anak itu,” lanjutnya mengajak seorang yang berpakaian bersih di sampingnya.
Anak-anak bersorak mengelukan. Belum pernah mereka menyaksikan orang menyelam sedemikian lama. Apalagi dengan pakaian yang begitu aneh.
Sebelumnya mereka semua mengira Caran tak akan muncul lagi. Tenggelam kehabisan napas atau mati dimakan buaya. Lebih dari sejam mereka menunggu, penuh tanya dan cemas. Nyatanya Caran muncul dengan ketegaran yang menggetarkan. *** Tapi sebenarnya itu hanyalah pemandangan di permukaan. Caran sendiri merasakan sakit dan kelelahan yang sangat. Tentu ini karena usianya yang sudah melampaui limapuluhan. Ya, ia merasa tak mempunyai lagi daya seperti kala belianya dulu. Tapi ini juga terutama karena setelah lebih dari tigapuluh tahun baru kali inilah ia menyelam lagi. Menjalankan tugas lamanya sebagai paaliran, mencari seorang anak lelaki yang hilang tenggelam di sungai itu.
Ia memutuskan menyelam setelah pancing kelima yang dilepasnya tak juga ditelan buaya yang dianggap telah menyambar seorang anak. Bahkan pancingnya tak bisa diangkat. Seakan ada yang menahannya atau mungkin tersangkut di batang-batang kayu yang tertanam di dalam sungai.
Ia masih ingat terakhir kali pekerjaan ini ia lakukan. Waktu itu ada seekor buaya tua yang mengamuk karena tidak dihadiahi telur dan ketan kuning oleh tuannya. Buaya itu menyerang warga yang sedang mandi atau mencuci. Dua orang ibu dan seorang anak tewas karena murkanya.
Tiga orang paaliran kampungnya diminta untuk menenangkan buaya itu. Tapi setelah tiga hari, belum juga ada hasilnya. Ketiga orang paaliran itu tidak kuasa menenangkannya. Bahkan untuk menemui buaya itu pun mereka tidak sanggup. Konon, diperlukan setidaknya tujuh paaliran untuk menenangkan sang buaya itu. Kalau perlu, jika buaya itu tak mau berdamai, mereka harus membunuhnya.
Maka, dari hulu sungai didatangkan dua paaliran, sementara dari hilir kampung bersedia satu orang. Atas usulan ayahnya yang termasuk dari ketujuh orang paaliran itu, Caran yang masih berusia duapuluhan waktu itu diajak untuk menggenapi jumlah tujuh yang dipersyaratkan untuk bisa bernegosiasi dengan buaya itu atau berperang sekalian.
Maka Caran bergabung dengan para paaliran senior itu. Menjalankan tugas kampung yang sangat berat dan menantang. Sudah seminggu tak ada yang berani mandi, mencuci atau buang hajat di sungai. Mereka takut dikariau buaya. Makin lama masalah buaya itu tak teratasi, tentu warga kampung makin menderita. Bukankah air minum juga mereka ambil dari sungai.
Karena tak mau berdamai, buaya itu akhirnya tewas dibunuh. Tombak rurang bermata dua milik Caranlah yang pertama kali menusuk dan merobek perutnya. Buaya itu menelan pancing yang mereka lepaskan. Setelah menelan pancing, buaya digiring perlahan ke tebing. Anehnya buaya itu mau saja. Ini tentu pengaruh ritual mamali tujuh hari tujuh malam yang mereka jalankan bersama sebelumnya. Pengaruh magis ini pula yang membuat buaya-buaya itu terpesona dengan mata pancing mereka.
Buaya-buaya lain mengamuk karena rekannya tewas. Terjadi perang antara para paaliran dan buaya-buaya. Tapi buaya-buaya itu tak berkutik melawan koalisi para paaliran itu. Dua hingga tiga ekor buaya menyusul tewas di ujung tombak dan mandau mereka. Di dalam perut buaya-buaya itu selalu ditemukan beras kuning dan kunyit, pertanda buaya-buaya itu mempunyai kaitan dengan atau bagian dari jaringan buaya yang bersalah itu.
Buaya-buaya itu akhirnya menyerah dan bersedia berdamai. Tandanya pancing-pancing besar bertalikan rotan yang mereka lepaskan itu ditelan oleh ikan-ikan besar. Konon ikan besar itu suruhan dari raja buaya agar pembunuhan terhadap buaya dihentikan.
Caran yang muda dan kuat tampil jadi pahlawan dalam perang itu. “Hampir semua buaya yang tewas itu terjebak oleh pancing yang dijaga Caran,” kata ayahnya membanggakan. “Anakmu akan jadi paaliran besar,” kata Bakula, paaliran dari sungai bagian hulu kepada ayahnya. Itu adalah salah satu pujian yang masih membekas di benak Caran.
Sejak itu, Caran menjadi paaliran muda yang terkenal. Sebelumnya, Caran hanya menyelam untuk mencari kijing. Atau memenuhi permintaan orang yang cincin, gelang, atau giwang emas mereka jatuh ke dalam sungai. Tentu ia mendapatkan persen untuk jasanya itu. *** Para pejabat desa, kecamatan dan staf pimpinan perusahaan itu bergegas turun menyusuri tebing sungai, menyambut Caran yang menepi.
“Bagaimana, apakah ada tanda-tanda…?,” tanya pambakal tergagap. “Tidak,…saya tidak menangkap tanda-tanda apapun,” jawab Caran dengan napas masih terengah-engah. “Mungkin anak itu sudah lewat sini, sudah hanyut jauh ke hilir. Buktinya, tali yang saya bentangkan telah putus,” jelas Caran.
Tali yang dibentangkan Caran seberang menyeberang sungai sebelum ia menyelam memang telah putus. Dalam teori paaliran, putusnya tali itu menandai orang yang hilang tenggelam telah melewati daerah itu. Pencarian karena itu harus dilakukan lebih ke hilir.
“Tapi, kira-kira apakah ia masih hidup?,” tanya Pak Tarmizi tinggi, penuh desakan. Hening tak ada jawaban. Tak ada juga yang berkata-kata. Satu sama lain saling berpandangan. Ketegangan menyergap pikiran mereka. “Saya pasrah. Saya hanya ingin anak saya segera ditemukan,” lanjut Pak Tarmizi dengan nada bicara yang telah mengendor.
Pak Tarmizi adalah Pimpinan PT Adhi Wana itu. Yang hilang dan tenggelam itu adalah anak laki-lakinya, Mirza, yang berusia 12 tahun. Mirza waktu itu hendak memancing bersama teman-temannya. Orang-orang kampung sudah memperingatkannya agar tak memancing. Air akan pasang, karena di hulu sungai tadi pagi berlangsung hujan lebat. Tapi Mirza tetap bersikeras. Ketika menyusuri tebing tanah yang licin, ia tergelincir masuk sungai. Tubuhnya terbawa arus deras dari sungai yang sedang menguap itu. Keterampilan renangnya yang didapat dari kursus tak banyak membantunya.
Setelah tiga hari lebih dicari oleh tim SAR, Mirza tak juga ditemukan. Orang-orang kampung bilang, Mirza disambar buaya. Ada juga yang bilang ia telah diambil anak oleh Tambon, penguasa dunia bawah air. Ia diyakini telah menjadi tumbal persembahan lima tahunan kepada sungai. Setiap lima tahun di sepanjang Sungai Tabalong ini ada saja orang yang hilang ditelan arus sungai. Karena tak juga diketemukan, atas saran Pambakal, Pak Tarmizi akhirnya berpaling pada Caran.
“Wah,… maaf, saya belum tahu pasti,” jawab Caran gugup. Pertanyaan itu menghujam ulu hatinya. Ia sama sekali tak bisa memberikan kepastian. Bahkan sedikit pun ia tak menangkap tanda-tanda, di mana anak itu berada. Termasuk apakah anak itu masih hidup atau sudah mati. Apakah ia disambar buaya, diambil tambon, atau semata hilang tenggelam.
Ia sebenarnya membutuhkan rekan untuk menyelam dan melakukan perburuan itu. Menelusuri bagian bawah rawa-rawa, kalau-kalau anak itu tersangkut di situ. Atau kalau perlu mendatangi lobang-lobang besar mirip goa di bawah rimbunan pepohonan bambu, yang diyakini menjadi tempat tambon dan buaya siluman bersemayam. Jangan-jangan memang mereka yang menculik Mirza seperti keyakinan sebagian besar orang-orang kampungnya. Jika betul demikian, ia hanya bisa meminta agar tubuh Mirza dikembalikan, meski jiwanya diambil. Tapi, tak ada teman yang bisa membantunya. Tak ada lagi orang yang terampil menyelam, menjebak dan bertarung dengan buaya. Apalagi yang sekelas paaliran. Ia adalah paaliran satu-satunya yang masih hidup dan tersisa di kawasan itu.
Tapi, seiring menyurutnya peran sungai, profesi ini juga sudah lama tak lagi dijalaninya. Orang-orang tak memerlukan lagi sungai untuk transportasi. Di samping jalan darat sudah ada dan baik, sungai itu juga sering mengalami kekeringan terlebih di masa kemarau. Kapal klotok sering tersendat. Karena erosi, tebing-tebingnya juga terus digerogoti longsor. Orang-orang juga sudah tak lagi membutuhkan sungai, karena air ledeng sudah mengalir ke rumah-rumah mereka. Beberapa orang mengatakan bahkan sungainya itu sudah kotor, tak sebersih dulu, penuh limbah merkuri bekas orang-orang menambang emas. Dengan demikian, orang juga tak lagi memerlukan paaliran.
Sejak itu, Caran menyimpan pakaian keramat paaliran yang berwarna kuning jingga warisan bapaknya. Juga mandau dan tombak pusakanya. Awalnya ia masih menjalani ritual sebagai paaliran. Berpuasa senin-kamis, menghaturkan sesaji ketan kuning dan telur setiap jumat sore, dan balampah setiap malam tanggal 21 di dalam air. Tapi lama-kelamaan ritual itu tak lagi rutin dijalaninya.
Kata hatinya, hal inilah yang paling membuatnya tak lagi sekuat dulu. Di bawah permukaan air, ia tak bisa melihat dengan jelas. Ia juga tak bisa bergerak layaknya ikan. Ia tak lagi seperti mudanya dulu di dalam air. Tapi ia sengaja menyelam selama mungkin, agar terkesan ia memang sungguh-sungguh mencari dan bertarung di bawah permukaan sungai itu. Hanya menyelam lama inilah sisa-sisa dari kesaktian masa lalunya.
Meski paaliran tak lagi laku, ia tetap bersetia dengan sungai. Ia dan keluarganya tetap mandi, mencuci, dan buang hajat di sungai. Apalagi setiap hari ia harus mencari ikan di sungai untuk dijual di pasar. Selain menjadi paaliran, itulah mata pencariannya turun temurun. Dan dengan itu semualah ia tetap terikat dengan sungai.
“Kalau begitu, apa kita perlu mencari lebih ke hilir lagi,” tanya pambakal menyentak galau pikirannya. Caran tak segera menjawab. Ia mengambil duduk di sebatang kayu yang menghujur di tebing itu. Suasana antara mereka jadi senyap. Meski di sekitar mereka, orang-orang yang menonton sangat riuh. “Atau, kita lanjutkan nanti, atau besok pagi. Mungkin kau perlu istirahat dulu,” lanjut pambakal. Ia risau dan malu dengan Pak Tarmizi kalau Caran tidak berhasil menemukan Mirza.
Tapi Caran tetap tak menanggapi. Diam. Langit makin menggelap. Sebentar lagi senja akan tiba. Bimbangnya kian berlipat-lipat. Apakah ia betul-betul bisa memenuhi permintaan mereka, menemukan dan membawa anak itu hidup atau mati.
“Saya harus melakukan mamali dan balampah tujuh hari dulu,” kata Caran ketika pertama kali diminta bantuannya oleh pambakal untuk mencari anak yang hilang itu. “Wah, … Itu terlalu lama,” jawab pambakal. “Bagaimana kalau disingkat tiga hari saja,” lanjut pambakal setengah memaksa. “O, … tidak bisa. Itu sudah aturan yang digariskan,” jelasnya.
Setiap kali pambakal mendesak setiap kali pula Caran menolak. Namun, pambakal terus memaksa. Hingga akhirnya Caran mengiyakannya. Tentu dengan setengah terpaksa. Ada rasa sungkan dalam dirinya untuk terus menolak.
“Tapi, kalau betul ia disambar buaya, selama pencarian, keluarga yang kehilangan juga harus menjalankan mamali,” minta Caran. “Ya, akan saya kasih tahu mereka,” jawab pambakal senang. “Dan mereka juga harus menabur beras kuning, kunyit dan padi di permukaan sungai tempat hilang anggota keluarga mereka,” lanjut Caran mempersyaratkan. “Pasti, … pasti akan saya kasih tahu mereka,” pambakal menjawab kembali dengan tegas.
Caran tidak tahu apakah persyaratan itu semua sudah dijalankan. Nyatanya, tuahnya tak kelihatan sama sekali. Pancing-pancing besar yang dilemparkannya tak disentuh sedikit pun oleh buaya.
Batinnya telah kehilangan keyakinan. Ia lalu berdiri. Melepas ikat kepalanya. Meninggalkan orang-orang yang cemas dan bingung itu. Meski tetap tak lepas kekaguman mereka kepadanya karena pertunjukan menyelam tadi. Ia naik menyusuri tebing. Wajahnya lesu dan langkah kakinya gontai. Ia pulang ke rumahnya. Catatan: Paaliran: sebutan untuk orang yang ahli menangkap buaya dan menyelam lama dalam air di daerah Kalimantan Selatan dan Tengah Mamali: Laku pantangan yang dijalani oleh seorang paaliran selama tujuh hari sebelum melakukan perburuan terhadap buaya yang menyambar orang. Pambakal: kepala desa; lurah Mangariau: istilah untuk buaya yang menyambar/menyerang orang Kijing: Sejenis kerang sungai yang daging bagian dalamnya bisa dimakan. Tambon: Kekuatan yang diyakini menguasai dunia bawah air/sungai. Balampah: bertapa
Dimuat Majalah GONG edisi, No. 67/VII/2005












Ustadz Jufri

Hairus Salim HS
Kali ini aku ingin bercerita tentang salah seorang ustazku di pesantren. Namanya Jufri, atau lengkapnya Muhammad Jufri. Orangnya masih belia, belum menikah, kulitnya putih bersih, agak pendiam, dan sangat nyentrik.
Perhatianku berawal ketika aku bertemu dengannya sewaktu mau menonton film di sebuah bioskop. Ia melemparkan senyum padaku. Hatiku kecut. Pakaiannya waktu itu sangat nggaya, mengenakan jeans biru dan kaos oblong kuning bergambar anjing snoopy. Itu tentu tidak seberapa mengejutkan. Kami di pesantren sudah banyak tahu kalau Ustaz Jufri berpenampilan sangat beda jika berada di luar pesantren. Memang itu pertama kali aku melihatnya berpenampilan seperti itu, setelah selama ini hanya sering mendengar ceritanya saja. Tetapi yang lebih mengejutkanku, ia menggandeng seorang gadis remaja. Mesra sekali.

Sebenarnya, bertemu dengannya di sebuah bioskop sama artinya aku tertangkap basah. Yumsak bilmablul, istilah Arab buatan kami. Menonton bioskop adalah perbuatan terlarang. Sanksinya sangat berat. Kepala bisa digundul dan dijemur di bawah terik matahari. Atau membersihkan kamar mandi dan WC selama tujuh hari berturut-turut. Tetapi seminggu hingga sebulan lebih sejak pertemuan itu, aku tidak pernah dipanggil oleh mahkamah pesantren. Ustaz Jufri rupanya tidak melaporkan perbuatanku menonton bioskop itu. Padahal jantungku sudah dag-dig-dug. Sewaktu menonton itu pun hatiku sesungguhnya sudah tidak karuan lagi. Tidak bisa konsentrasi. Anehnya, beberapa kali bersapa, ia pun tak pernah menanyai atau menyindirku perihal nonton itu. Seolah kami tak pernah bertemu saja. Dan aku pun tak pernah menceritakan pertemuan itu kepada siapapun, termasuk soal ia menggandeng gadis remaja itu.
Ustaz Jufri mengajar lughah al-arabiyyah, insya, imla, dan tarjamah. Konon di angkatannya ialah yang terbaik Bahasa Arabnya. Caranya mengajar santai dan menyenangkan. Kami disuruh menghapal 10 kosa kata Arab setiap hari Rabu. Masing-masing lima fi’il dan lima ism. Tak boleh lebih dan tak boleh kurang. Kosa kata Arab yang dihapalkan itu disusun sendiri oleh Ustaz Jufri dan dibagikan dalam bentuk buku yang difotokopi.
Di dalam kelas, kami dibiasakan untuk menggunakan Bahasa Arab. Juga pada hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Selain itu, tak jarang ia memperdengarkan pada kami lagu-lagu pop berbahasa Arab dari kaset dan sesekali disertai video klipnya. Rekaman-rekaman itu diambil dari Nile TV dan Syria Video Center (SVC). Di luar bayangan kami, goyang para penyanyi Arab ternyata jauh lebih erotis dan terbuka. Sudah setara dengan orang-orang Barat, pikir kami waktu itu. Pendengaran Bahasa Arab kami dilatih dengan mendengarkan syair-syair lagu itu. Menuliskan kembali syair lagu Arab ini menjadi salah satu metode pelajaran imla. Dan terakhir menerjemahkannya. Ah, rupanya syair-syair lagu di mana pun sama. Melulu tentang cinta. Sentimentil dan melankolis.
Sesekali Ustaz Jufri juga membawakan kami majalah atau koran berbahasa Arab. Lengkap dengan foto-fotonya yang indah dan kadang juga syur. Mungkin seperti majalah atau tabloid gaya hidup yang ada di sini. Tapi aku sudah lupa apa namanya. Kalau kaset dan CD itu, maksudnya biar kami tahu juga perkembangan masyarakat Arab kontemporer, maka koran dan majalah berbahasa Arab ini, katanya, biar kami tak ketinggalan dengan perkembangan mutakhir Bahasa Arab. Setelah kami bandingkan, Bahasa Arab jurnalistik modern itu memang sangat berbeda dengan Bahasa Arab kitab-kitab fiqih warna kuning yang kami pelajari. Kami tidak tahu dari mana Ustaz Jufri mendapatkan bahan-bahan itu. Kabarnya, itu kiriman dari kakaknya yang waktu itu sedang kuliah di Mesir. Yang jelas, tape, TV, dan player itu miliknya sendiri, bukan milik pondok.
Aku jadi kagum pada Ustaz Jufri. Pelajaran yang diberikannya selalu kunantikan. Aku jadi betah tinggal di pesantren. Tapi rupanya bukan hanya aku. Sebagian besar teman-temanku juga mengidolakannya. Darinya kami belajar bukan hanya pentingnya Bahasa Arab, tetapi juga betapa Arab tak sesakral yang kami yakini.
Ada satu lagi sikap Ustaz Jufri yang jadi pergunjingan. Ia konon senang mendengarkan musik. Tapi bukan gambus, qasidah, atau shalawatan. Ustaz-ustaz yang tak suka pada gayanya yang nyentrik itu menyebutnya senang mendengar musik barat. Bahkan ada yang menyebutnya senang “musik gereja”. Katanya lagi, musik itu biasa disimaknya pada tengah malam. Musik apa yang dimaksud aku tak tahu pasti. Yang kutahu, ustaz senang lagu-lagu Ummi Kultsum dan Fairuz, dua diva pop legendaris dari Mesir dan Lebanon, seperti yang pernah diperdengarkannya pada kami di dalam kelas.
Aku ingat, pada suatu malam aku kebetulan lewat di depan kamarnya. Dari balik kamarnya kudengar lamat-lamat suara musik. Di telingaku, musik itu memang agak aneh dan asing. Inikah yang dimaksud musik gereja itu? Aku rasa, itu hanya instrumentalia, musik tanpa syair. Tak ada suara penyanyinya. Alat musiknya apa tak kutahu pasti karena aku –dan umumnya kami santri—memang buta dengan berbagai instrumen musik. Yang jelas, nadanya kadang meninggi, kadang merendah. Sebentar agak pelan, namun dengan perlahan dan teratur ritmenya bisa meninggi. Kadang lembut, tetapi tiba-tiba menghentak. Ritme musiknya terdengar sangat rapi. Durasinya juga jauh lebih panjang dibanding lagu-lagu biasanya.
Aku tergoda mengintipnya dari jendela yang gordennya sedikit agak tersingkap. Kulihat Ustaz Jufri bercelana pendek, mengenakan singlet, duduk asik mendengarkan musik itu sambil membaca kitab. Diam-diam aku juga menikmati musik itu. Iramanya kurasa sangat mistis. Terlebih di tengah malam nan sepi begini. Ah, Ustaz Jufri memang aneh.
O, ya, Ustaz Jufri juga penggemar sepak bola. Dialah yang mengusulkan agar santri diperkenankan menonton siaran langsung sepak bola di TV. Ia juga menjadi pembina klub sepak bola pondok. Atas dukungannyalah bisa terselenggara kompetisi antar asrama. Dari kurang lebih 1500 jumlah santri bisa disaring 20 tim yang saling bertemu 2 kali sepanjang tahun. Pertandingannya biasanya berlangsung pada setiap sore Kamis, Jumat, dan Sabtu. Tentu ketika tidak ada jam mengaji tambahan. Kami menyebutnya Liga Al-Falah, nama pondok kami. Sesekali Ustaz Jufri membawa keluar pemain-pemain terpilih dari 20 tim itu untuk bertanding persahabatan dengan klub amatir di luar pondok. Menarikkan!
Yang sama sekali ditolak dari usulan Ustaz Jufri kepada pengurus pondok adalah pengadaan dan pelajaran alat musik untuk santri. Ustaz Jufri sedih. Padahal, menurutnya, musik itu perlu untuk membentuk keindahan dan menanamkan rasa cinta pada keindahan. Dari kemampuan mengapresiasi keindahan lahir rasa cinta pada kedamaian. Sementara untuk tujuan praktisnya, musik bisa mengiringi teater dan drama santri yang selama ini monoton dan kaku, karena tak ada iringan musik yang baik. Kami, pendukungnya, tentu juga turut sedih. “Seandainya saya bisa memainkan musik, saya akan langsung ajarkan sendiri. Tak peduli pengurus pondok melarangnya,” katanya suatu kali di depan kami, dengan nada agak kecewa. Ah, sayang ya ustaz!
Suatu sore aku dan dua rekanku dipanggil Ustaz Jufri ke kamarnya. Kupikir Ustazd Jufri hendak membagikan kue atau buah seperti biasanya.
“Tolong, bantu masukkan buku-buku dan kitab-kitab ini ke dalam kotak-kotak ini!,” pintanya. Tanpa bertanya, kami langsung mengerjakannya. Tapi di kepalaku meloncat-loncat pertanyaan, mau apa sebenarnya sang ustazd ini. Apa mau pindah kamar? Tapi mengapa harus dibungkus rapi seolah harus diangkut jauh.
Baru pertama kali ini kulihat, ia tak hanya memiliki “kitab-kitab”, tetapi juga banyak “buku-buku”. Di pesantrenku, kitab dan buku adalah sesuatu yang berbeda. Kitab tertulis dalam Bahasa Arab dengan kertas berwarna kuning. Biasanya bentuknya besar dan tebal. Seluruh pelajaran keagamaan kami pelajari dari kitab-kitab ini. Berbeda dengan itu, buku tertulis dalam Bahasa Indonesia. Bentuknya kecil dan jauh lebih tipis dibanding kitab. Kadang sebagian isinya ada gambarnya. Di pesantrenku, buku bukan dianggap sumber pengetahuan dan karena itulah cenderung dilarang.
Yang membuat kami kaget dan setengah tak percaya, Ustaz Jufri mengatakan bahwa besok ia akan pamit pergi. Ia akan pindah dan tak lagi mengajar di pondok ini. Kami betul-betul sedih dan bingung. Sedemikian galaunya tak sempat lagi kami menanyakan mengapa ia pindah dan kemana? Aku tentu sangat terpukul. Nyatanya, kami semua sungguh merasa kehilangan.
Sampai sekarang, setelah lama berlalu, tak pernah jelas mengapa Ustaz Jufri pergi dari pondok ini. Informasi dari pengurus pondok mengatakan bahwa Ustaz Jufri sendiri yang memang meminta berhenti. Ia hendak mencari kemerdekaannya. Tempat ini, katanya, tidak cocok buatnya. Ada juga yang mengatakan bahwa pimpinan pondok yang memintanya mundur. Kasarnya, ia dipecat. Kabarnya karena perilakunya yang nyentrik tapi dianggap tidak nyantri itu. Tapi ada pula selentingan karena ia mempertanyakan penggunaan uang pondok oleh pengurus yayasan. Ada juga yang mengatakan karena ia menyebarkan ajaran Wahabi, meski yang terakhir ini sama sekali tak kupercaya.
Ah, aku tak tahu mana yang benar. Yang kutahu pasti, kami telah kehilangan Ustazd Jufri.
Banjarmasin-Jogjakarta 2002-10-16 Dimuat di majalah Syir’ah, Jakarta, Februari 2003

Leave a Reply